Febdian Rusydi's blog

Ga ikut polik, ndri?

Pertemuan dengan kakak dan adik-adik saya pada momen pernikahan saya dua pekan silam mengingatkan saya pada banyak hal tentang masa kecil saya. Tidak disangka kakak saya begitu banyak hapal kebiasaan-kebiasaan saya sewaktu kecil — ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya. Masa lalu memang menjadi abadi dalam kenangan. Entah itu manis atau pahit, masa lalu adalah sejarah kita yang membuat kita seperti sekarang. Sekitar tahun 1998 - 1999, saat masih kuliah, saya dan kakak saya baru pindah dari kos-kosan lama di daerah Haur Mekar (belakang tugu perjuangan Jl. Dipati Ukur, depan kampus Unpad) ke Gg. Menara Air (Jl. Tubagus Ismail, Sadang Serang). Orang tua kami membeli sebuah rumah kecil. Turut bergabung bersama kami, Arie Irman, sepupu kami yang sejak kecil sering bersama kami.

Kapan Lebaran?

Kapan lebaran? Ya 1 Syawal! Semua kita tentu sudah tahu hal ini. Yang sering jadi perselisihan adalah 1 Syawal itu berapanya kalender Masehi?

Pertanyaan ini sama dengan saat kita mau shalat di tempat baru dan tidak tahu kemana sajadah hendak diarahkan. "Ke mana arah shalat?" Ya jawabnya: ke Kiblat. Karena belum puas, kita bertanya lagi, "Ya, kiblatnya ke mana?" Ya ke Ka'bah. Nah, yang jadi perselisihan adalah letah Ka'bah itu di mana relatif terhadap posisi kita sekarang.

Penetapan "1 Syawal 1428 H itu sama dengan berapanya Masehi" persis sama dengan penyerataan dua buah satuan dalam fisika:

1 Syawal [Hijriah] = X Y [Masehi];

ada dua variabel di sini: X untuk tanggal, dan Y untuk bulan.

Ini rasanya mirip dengan penyetaraan 1 liter air ke dalam kilogram. Pertama kita sadar bahwa ada liter itu adalah satuan volume dan kilogram itu adalah satuan massa — Jadi ada dua variabel yang terlibat di sini, satuan volume dan satuan massa.. Kemudian kita cari apa yang menghubungkan volume dan massa, yaitu massa jenis (kg/m3). Sekarang kita tahu langkah pertama kita menyeterakan liter ke dalam m3:

Skenario Kiamat dalam Fisika: Kiamat di Bumi

Kiamat, adalah sebuah keniscayaan, baik dalah ranah agama maupun sains. Dalam Islam setiap muslim wajib beriman kepada kiamat. Al Quran dan hadits memberikan panduan kepada kita tentang tanda-tanda, dahsyat, dan keadaan kiamat itu. Namun, Allah tidak memberi tahu kepada kita kapan pastinya kiamat itu seperti pada surat Al A'raaf (7:187):

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, "Kapan terjadinya?"

Katakanlah, "Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskannya waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat itu) sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba."

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) seakan-akan kamu mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) itu pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya."

Skenario Kiamat dalam Fisika: Klarifikasi Untuk DetikCom

Perkara Alam Semesta selalu menjadi perkara menarik bagi umat manusia. Mungkin karena cerita tentang planet-planet, matahari dan bintang-bintang yang selalu disertai unsur mistik membuat kita semakin penasaran. Sepertinya kita secara intuisi tertarik dengan mistik (dan ilmu gaib).

Setidaknya ada dua pertanyaan yang sudah berkembang semenjak peradaban manusia: dari mana Alam Semesta ini berasal dan bagaimana akhirnya. Pertanyaan terakhir inilah yang menjadi tema pembicaraan saya saat diundang oleh Qalam Public Relation and Event Organier di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia, di Jl. Thamrin (Jakarta) — dalam rangka Nuzulul Quran "Memahami Al Quran dengan Cara Tak Biasa...". Qalam juga mengundang Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), Fahmi Basya (matematikawan Islam), dan Agus Mustofa (pengarang buku "Akhirat Tidak Kekal"). Acara ini gratis untuk umum dan diadakan dua hari, 3-4 Oktober 2007. Kebetulan saya dan Cak Nun mengisi di hari pertama: saya sebelum berbuka dan Cak Nun setelah berbuka.

Sakit Tipus

Sudah dua pekan tidak menulis, bukan karena tidak ada ide atau tidak sempat. Melainkan tidak bisa. Praktis semua aktivitas berhenti. Perhelatan pernikahan Koko Wangsa tanggal 12 Agustus kemarin pun tidak bisa dihadiri — padahal menghadiri undangan pernikahan itu wajib, ada haditsnya lho. Benar, sudah sepekan lebih ini saya terbaring karena divonis menderita tipus (typhoid fever). Orang kata tipus datang karena kecapean di bawah ambang toleransi tubuh. Saya memang keasikan kerja, tapi tidak sampai pada status kecapean sangat. Bermula dari sakit perut, mual-mual sampai muntah pada malam hari (saya perhatikan muntahan saya itu adalah semua makanan yang saya makan sejak pagi, sayang sekali ya), kemudian diikuti panas, sakit kepala, otot-persendian linu, sampai akhirnya nyeri pinggang.

Takut pikun? Minum kopi!

gambar secangkir kopi asin BBC News edisi 7 Agustus 07 menurunkan berita tengan hasil riset neurosainsis Prancis tentang kafein pada kopi mungkin memperlambat kepikunan pada perempuan. Wow!!! Berdasarkan artikel tersebut, para ilmuwan itu melakukan penelitian terhadap perempuan-perempuan berusia 65 tahun atau lebih (tentu saja jumlah sampel dan lokasi sampel terbatas) dan menyimpulkan perempuan yang rutin dan banyak minum kopi mengalami kepikunan lebih lambat 4 tahun setiap waktunya. "(Fenomena) ini mungkin disebabkan oleh kafein (dalam kopi) yang memperlambat proses demensia," kata Karen Ritchie, salah seorang ilmuwan dalam riset ini. "Meski kami sudah punya gambaran bagaimana proses ini bekerja secara biologi, tapi kami butuh pemahaman yang lebih baik bagaimana kafein mempengaruhi otak sebelum kami dapat mengkampanyekan kafein sebagai salah satu cara memperlambat kepikunan," katanya lagi. Bagaimana dengan pria? Sayang sekali, penelitian menunjukkan bahwa otak pria tidak bisa dilindungi oleh kafein. Hehe... tapi tetap saja, dilindungi atau tidak, kopi tetap enak dinikmati. Apa lagi sambil makan kuaci....

Simpsons di Majalah Nature



Lisa gets so bored by a lack of schooling she builds a perpetual motion machine. Homer is not pleased: "Lisa, in this house we OBEY the law of thermodynamics." Simpson di Majalah Nature edisi 26 Juli 2006, halaman 404 - 405.

Dude, it's over...

Berakhir sudah cerita fantasi sihir Harry Potter. Menakjubkan, Rowling sukses mengubah budaya "menonton" menjadi "membaca" untuk sebagian besar anak-anak di Bumi ini. Buku terakhir sudah terjual jutaan kopi sebelum diluncurkan. Terlepas dari cerita dan fantasinya, internet sangat berandil besar dalam promosinya. Jutaan fan yang memiliki akses internet bercerita sepanjang waktu tentang hal Harry Potter. Atmosfir yang sama saya rasakan (atau mungkin sedikit lebih dewasa) untuk fantasi Tolkien Lord of the Rings.

Banyak kesamaan antara fantasi Tolkien dan Rowling, tapi ada satu perbedaan mendasar yang saya rasakan. Tanpa bermaksud merendahkan Rowling, tapi apa yang dilakukan Tolkien adalah sebuah revolusi fantasi modern, melihat situasi dan kondisi pada saat itu (antara Perang Dunia I dan II), kekompleksitasan cerita, dan kesempurnaan fantasi yang mungkin cuma tertandingi oleh kisah Mahabarata. Namun saya sepakat, tidak pada tempatnya membandingkan dua fantasi ini, nikmati saja bagi yang mau menikmati. #Harry Potter and the Deathly Hollows# Buku ketujuh yang menjadi the ultimate ending sudah selesai saya khatamkan Sabtu sore kemarin. Mau rasanya langsung menuliskan di sini resumenya, tapi saya butuh waktu semalam untuk berpikir karena sudah sering mendapatkan protes dari teman-teman merusak fantasi mereka (spoiller). Sebenarnya memang saya suka sekali merusak fantasi orang, hehe, tapi untuk kali ini saya tidak lakukan secara brutal. PERHATIAN: ARTIKEL BERIKUT BISA JADI ADALAH SPOILER BAGI ANDA!!! ##Tokoh yang mati## Dari situs-situs terkait Harry Potter saya mendapat kesan bahwa isu utama dalam buku terakhir ini adalah siapakah yang mati dan yang selamat? Mungkin karena sebagian pembaca sudah punya tokoh favorit masing-masing dan ingin tahu bagaimana nasib mereka ditentukan oleh Rowling. Saya sendiri juga punya tokoh favorit, tapi saya sudah menentukan nasibnya sendiri tanpa menunggu Rowling (dan tidak mau tahu apa yang dilakukan Rowling terhadap tokoh tersebut heheheh). Berikut ringkasan kematian karakter favorit saya berdasarkan waktu kejadian (yang tidak favorit tidak saya tulis).

You Will Lost Everything

Setelah belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, saya sudah mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan pahit bahwa akan banyak fantasi-fantasi dari buku yang tidak diangkat ke dalam film. Termasuk ketika hendak menonton film Harry Potter 5. Dari dulu saya selalu bermasalah dalam hal transformasi fantasi dari buku ke film. Seperti film Harry Potter sebelumnya, saya lanjutkan tradisi mengulas film ini dari perspektif saya.


Harry Potter and the Order of Phonix. Saat pertama kali buku itu keluar saya langsung mengasosiasikannya dengan The Fellowship of the Ring, sebuah grup sukarelawan yang memiliki misi untuk menyelematkan dunia dari aksi seorang tokoh sakti yang tidak mungkin dikalahkan dalam duel satu lawan satu. Dalam fantasi Tolkien (Lord of The Rings), ada Sauron, si juragan cincin; dalam fantasi Rowling (Harry Potter) ada Tom Marvollo Riddle, si Lord Voldemort. Dua-duanya sama-sama sakti, mungkin bisa diasumsikan sebagai individu tersakti dalam masing-masing fantasi. Karena itu, untuk mengalahkannya harus secara kolektif, bersama-sama, dan jaringan. Maka Elrond, the elf, segera membentuk grup the Fellowship of the Ring untuk menghancurkan the One Ring; sementara Dumbledore membentuk grup Order of Phoenix. Walaupun teknis dan detil berbeda, tapi idenya persis sama. Tapi tidak mengapa, tho saya mengikuti Harry Potter tidak seperti saya menyukai fantasi Tolkien. Bagaimanapun juga saya harus menghargai sejarah saya sendiri bahwa saya lebih dahulu mengenal Harry Potter sebelum Tolkien hehehe. PERHATIAN: ARTIKEL BERIKUT BISA JADI ADALAH SPOILER BAGI ANDA!!!

Ocehan Minggu: Kenapa kita tidak bisa antri

Hari ini lustrum V fakultas MIPA Universitas Airlangga dibuka. Ulang tahun ke-25 ini sendiri sebenarnya tanggal 1 Juli kemarin, tapi seperti biasa karena alasan teknis baru sekarang bisa dirayakan. Ada serangkaian kegiatan yang dilakukan selama sepekan ke depan, salah satunya adalah pemeriksaan kesehatan gratis (jantung, tekanan darah, kadar gula dan kolesterol) bagi civitas academica dan keluarganya. Menarik, saya sangat menghargai usaha-usaha seperti ini. Dari awal saya sudah menduga hasil pemeriksaan tidak memiliki akurasi yang jelas. Meskipun memakai alat-alat elektronik (yang saya tidak tahu kapan dikalibrasinya), namun kondisi pemeriksaan yang kurang nyaman akibat desak-desakan, antrian yang tidak jelas, dan pengkondisian tubuh sebelum pemeriksaan (saya malah begadang semalaman main DotA dan pagi-paginya minum kopi dua gelas). Tapi tetap saja, walaupun tidak diketahui akurasinya pemeriksaan ini bisa dijadikan referensi cepat seberapa sehat tubuh saya (hampir mirip dengan wikipedia.org sebagai referensi cepat saya kalau mau tahu tentang sesuatu).
Syndicate content