Kapan lebaran? Ya 1 Syawal! Semua kita tentu sudah tahu hal ini. Yang sering jadi perselisihan adalah 1 Syawal itu berapanya kalender Masehi?
Pertanyaan ini sama dengan saat kita mau shalat di tempat baru dan tidak tahu kemana sajadah hendak diarahkan. "Ke mana arah shalat?" Ya jawabnya: ke Kiblat. Karena belum puas, kita bertanya lagi, "Ya, kiblatnya ke mana?" Ya ke Ka'bah. Nah, yang jadi perselisihan adalah letah Ka'bah itu di mana relatif terhadap posisi kita sekarang.
Penetapan "1 Syawal 1428 H itu sama dengan berapanya Masehi" persis sama dengan penyerataan dua buah satuan dalam fisika:
ada dua variabel di sini: X untuk tanggal, dan Y untuk bulan.
Ini rasanya mirip dengan penyetaraan 1 liter air ke dalam kilogram. Pertama kita sadar bahwa ada liter itu adalah satuan volume dan kilogram itu adalah satuan massa — Jadi ada dua variabel yang terlibat di sini, satuan volume dan satuan massa.. Kemudian kita cari apa yang menghubungkan volume dan massa, yaitu massa jenis (kg/m3). Sekarang kita tahu langkah pertama kita menyeterakan liter ke dalam m3:
Kiamat, adalah sebuah keniscayaan, baik dalah ranah agama maupun sains. Dalam Islam setiap muslim wajib beriman kepada kiamat. Al Quran dan hadits memberikan panduan kepada kita tentang tanda-tanda, dahsyat, dan keadaan kiamat itu. Namun, Allah tidak memberi tahu kepada kita kapan pastinya kiamat itu seperti pada surat Al A'raaf (7:187):
Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, "Kapan terjadinya?"
Katakanlah, "Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskannya waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat itu) sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba."
Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) seakan-akan kamu mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) itu pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya."
Perkara Alam Semesta selalu menjadi perkara menarik bagi umat manusia. Mungkin karena cerita tentang planet-planet, matahari dan bintang-bintang yang selalu disertai unsur mistik membuat kita semakin penasaran. Sepertinya kita secara intuisi tertarik dengan mistik (dan ilmu gaib).
Setidaknya ada dua pertanyaan yang sudah berkembang semenjak peradaban manusia: dari mana Alam Semesta ini berasal dan bagaimana akhirnya. Pertanyaan terakhir inilah yang menjadi tema pembicaraan saya saat diundang oleh Qalam Public Relation and Event Organier di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia, di Jl. Thamrin (Jakarta) — dalam rangka Nuzulul Quran "Memahami Al Quran dengan Cara Tak Biasa...". Qalam juga mengundang Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), Fahmi Basya (matematikawan Islam), dan Agus Mustofa (pengarang buku "Akhirat Tidak Kekal"). Acara ini gratis untuk umum dan diadakan dua hari, 3-4 Oktober 2007. Kebetulan saya dan Cak Nun mengisi di hari pertama: saya sebelum berbuka dan Cak Nun setelah berbuka.
Recent comments
17 hours 24 min ago
17 hours 35 min ago
17 hours 36 min ago
17 hours 36 min ago
17 hours 42 min ago
18 hours 53 min ago
19 hours 3 min ago
19 hours 4 min ago
19 hours 5 min ago
19 hours 10 min ago