Memahami Polling Secara Awam

Pasti sering baca atau dengar polling? Polling sabun, sinetron, atau yang sempat hangat: polling capres. Kita pengen tahu siapa yang menang. Kerapkali, memang itu saja yang kita perlu tahu. Jangan tambah repot hidup susah ini. Tapi kadang, hidup ini tidak mau diajak kolusi, senangnya melihat kita sengsara penuh derita. Ngomong apa sih ini…hehe…Ini ngomong tentang polling aja kok. Kutipan dari Tempo Interaktif Senin, 20 September 2004 19:49 WIB, “…Berdasarkan hasil polling, pasangan SBY-Jusuf Kalla mendapat 60,21% suara. Sementara pasangan Megawati-Hasyim Muzadi mendapat 39,79%...” Tidak sulit menerka hasil akhir dari polling di atas betapa pun dalamnya hati kita berlabuh pada bunda. Bagaimana dengan kutipan dari Newsweek ini? “..Kerry mendapat 47% dan Bush 45%...”. Hasil akhirnya kita tahu Bush menang. Apa yang salah? Tidak ada. Hah? Ya, tidak ada. Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kita mulai dari pengertian polling (apa sih polling?), syarat-syarat agar polling valid (cara memilih responden yang benar), mengenal dan memahami angka-angka yang menyertai polling (apa sih angka-angka itu?), dan menginterpretasi dengan benar hasil polling (biarkan angka bicara). Apa Sih Polling? Polling adalah cara mendapatkan informasi atau opini publik lewat sejumlah pertanyaan. Susunan dan pilihan kata untuk pertanyaan harus jelas dan tidak mengarahkan jawaban (bias). Pertanyaan 1: Menurut Anda, perlukah pengawasan lebih ketat terhadap tayangan televisi untuk menghindari berkembangnya sifat konsumtif? Pertanyaan 2: Menurut Anda, perlukah pemerintah mengatur apa yang boleh ditayangkan? Nada yang terdengar dari pertanyaan di atas? Pertanyaan satu seolah mengatakan bahwa tayangan televisi secara sengaja menumbuhkan sifat konsumtif masyarakat. Pertanyaan dua mengesankan pemerintah yang otoriter. Alamak! Pertanyaan yang baik adalah yang netral dan memberikan kesempatan kepada responden untuk mengemukakan pendapat pribadinya atas suatu issue. Urutan pertanyaan juga berpotensi membiaskan hasil polling, oleh karena itu urutannya menjadi penting untuk dipikirkan. Simak susunan berikut. Pertanyaan 1: Apakah Anda suka dengan tayangan televisi yang menampilkan kesederhanaan hidup? Ya atau tidak. Pertanyaan 2: Jika ya, seberapa pentingkah peran pemerintah mengatur isi tayangan? Sangat penting, penting, tidak penting. Sangat mungkin orang yang menjawab “ya” untuk pertanyaan satu akan menjawab “penting” untuk pertanyaan dua. Sangat mungkin jika pertanyaan dua diajukan sendirian tanpa pertanyaan satu, akan lebih banyak yang menjawab “tidak penting”. Jadi, untuk mendapatkan jawaban yang tidak bias, mulailah dengan pertanyaan yang tidak bias. Responden yang Baik Kata kunci di sini adalah acak. Setiap orang mempunyai kesempatan sama besar untuk dipilih sebagai responden. Bagaimana memastikannya? Nongkrong di Samsat dan tanyain orang-orang yang bayar BPKB? Itu hanya mengikutsertakan orang-orang yang punya kendaraan. Apa jadinya nasib salah satu calon walikota yang punya agenda lingkungan hidup: menaikkan pajak kendaraan bermotor untuk mendanai taman kota? Dipastikan nasib beliau gak kalah tragis dengan kondisi taman sekarang. Atau memilih responden secara acak lewat telepon? Ingat polling melalui telepon saat pemilu lalu? Hasilnya PK menang telak, dipilih lebih dari 90% penelepon. Tapi dalam pemilu sebenarnya, perolehan suara PK jauh lebih kecil dari perolehan suara PKB. Itu karena masyarakat Indonesia yang memiliki telepon sekitar 10% saja, sehingga tidak bisa digeneralisir untuk seluruh masyarakat. Setali tiga uang polling lewat sms yang lagi marak. Untuk hiburan sih boleh-boleh saja. Polling menjadi turun martabat (dan membahayakan kemandirian ilmiahnya) kalau terbukti masyarakat mampu diubah opininya lewat polling. Sejatinya, polling mengatakan apa yang ada, bukan iklan untuk mengajak kepada. Apa yang dilakukan penyelenggara quick count saat pemilu lalu adalah contoh bagus tentang responden (TPS) acak yang bisa digeneralisir untuk seluruh populasi. TPS-TPS tersebut dipilih karena keterwakilan keseluruhan TPS dan oleh karena itu hasil quick count, sama-sama kita ketahui, sangat dekat dengan hasil perhitungan akhir. Bukan sulap bukan sihir. Tidak semua polling sejelimet quick count dalam memilih responden. Tergantung tujuan polling dan cakupannya, responden bisa dipilih dengan mudah. Contoh untuk lingkungan sebuah SMP, polling tentang sikap siswa laki-laki dan perempuan terhadap matematika, responden bisa diwakili satu kelas dari setiap jenjang. Misal kelas 1A, 2B, dan 3D dari total 12 kelas. Ketiga kelas tersebut dipilih karena komposisi siswa laki-laki/perempuan dalam kelas tersebut mirip dengan komposisi total sekolah. Hasil polling ini bisa digeneralisir menjadi sikap seluruh siswa laki-laki dan perempuan terhadap pelajaran matematika di sekolah tersebut (awas! di sekolah itu saja, bukan semua sekolah lainnya). Apa Sih Angka-angka Itu? Polling „serius“ selalu memiliki ini di belakangnya: „..margin of error ±3,1%, dengan tingkat kepercayaan 95%. ..”. Apa itu margin of error? Tingkat kepercayaan? Tingkat kepercayaan 95% mempunyai makna: jika pertanyaan yang sama ditanyakan lagi kepada populasi (12 kelas, bukan hanya kelas 1A, 2B, dan 3D) sebanyak 100 kali, maka 95 kali jawabannya adalah „sama“. Jadi misalnya data polling adalah 30% dari 50 murid perempuan dari kelas 1A, 2B, dan 3D senang matematika, maka kalau diulang sebanyak 100 kali kepada 12 kelas, maka ada 95 kali „kurang lebih“ 30% dari semua murid perempuan sekolah tersebut suka matematika. „Sama“ dan „kurang lebih“ ada kaitannya dengan bahasan tentang margin of error. Untuk tingkat kepercayaan 95%, margin of error dihitung seperti di bawah: Margin = +/- 1.96 x sqrt[(100-P)/Pn] x (N-n)/(N-1) Untuk contoh sekolah dan murid perempuan di atas, maka P = 30%, n = jumah responden yang ditanya = 50 murid perempuan, N = total murid perempuan sekolah, misal =200 murid, maka margin of error = ± 9,6%. Artinya, 95 kali jawaban akan berada dalam rentang 30% ± 9,6% (20% sampai 40%) murid perempuan senang matematika. Umumnya, margin of error yang dicantumkan dalam polling adalah untuk P = 50% (karena pada angka 50% ini margin of error paling besar). Jadi kalau mau mencantumkan hasil survey sekolah tadi, laporannya kira-kira begini: “…30% dari 50 responden murid perempuan suka matematika, tingkat kepercayaan 95%, margin of error 10,4%...” karena pada P = 50%, margin menjadi 10,4%. Prosedur yang sama dilakukan untuk murid laki-laki. Kenapa sih dibedakan murid laki-laki dan perempaun? Mau disatukan? Boleh aja. Sekalian untuk ngecek seberapa lebih akurat atau sama aja. Sering dijumpai „..margin of error ±3,1%, dengan tingkat kepercayaan 95 %. ..”. Itu adalah tipikal survei terhadap 1000 responden dan digunakan untuk mewakili populasi yang jauh lebih besar dari 1000 sehingga rumus margin of error bisa didekati oleh: Margin = ± 0.98/√n Beberapa tingkat margin of error (ME) yang umum dipakai untuk jumlah responden 60 adalah +/- 12.7% (60, 12.7), (100, 9.8), (500, 4.4), (1000, 3.1). ME 3.1% rasanya yang paling sering muncul di polling pembaca Kompas, artinya polling melibatkan 1000 responden. Biarkan Angka Bicara Sudah tahu semua angka-angka dalam polling, terus apa? Pernyataan “…30% dari 50 responden murid perempuan suka matematika, tingkat kepercayaan 95%, margin of error 10,4%...” cukup memuaskan, dengan pengertian tidak akan menimbulkan pertanyaan “jadi sebenarnya lebih banyak yang suka atau tidak?”. Yang suka matematika kurang dari separuh. Bagaimana dengan ini “..Kerry mendapat 47% dan Bush 45%, pada tingkat kepercayaan 95% dan margin of error 3,1%....”. Kira-kira angkanya Kerry berkisar dari 44% sampai 50% dan Bush 48% sampai 42%. Jadi memang ada kemungkinan Kerry kalah walau peluang menangnya lebih besar. Seberapa besar peluang menang? Besar peluang Kerry menang bisa dihitung, tetapi itu untuk konsumsi pembaca yang lebih serius aja. Kita cukup deh disuguhin tabelnya. Tabel kemungkinan menang dari survei dengan tingkat kepercayaan 95%, dihitung dari selisih perolehan persentase dan margin of error survei. Sesuai urutan beda persentase: 0%, 1, 2, 3, 4, 5, 6%, dengan margin of error 1% ME 50.0 83.6 97.5 99.8 100 100 100, 2% ME 50.0 68.8 83.7 92.9 97.5 99.3 99.8, 3% ME 50.0 62.8 74.3 83.7 90.5 94.9 97.5, 4% ME 50.0 59.7 68.8 76.9 83.7 89.0 93.0, 5% ME 50.0 57.8 65.2 72.2 78.4 83.7 88.1, 6% ME 50.0 56.5 62.8 68.8 74.3 79.3 83.7, 7% ME 50.0 55.6 61.0 66.3 71.2 75.8 80.0 Contoh Kerry di atas, karena selisihnya 2% dan margin of error 3%, maka kemungkinan Kerry menang adalah 74,3% (kemungkinan Kerry kalah = 100% - 74,3% = 25,7%). Namanya juga kemungkinan, takdir berbicara lain, Kerry kalah. Berarti pollingnya salah dong? Nanti dulu. Itu polling kan bilang kalau diadakan 100 kali pemilu, 74 kali Kerry menang, 26 kali kalah. Sial aja, kali pertama Kerry langsung kalah hehe. Dan gak ada 99 pemilu lagi untuk menjustifikasi itu polling haha... Perlu sikap bijak dalam membaca polling. Belum tentu polling Kerry itu mewakili populasi. Bisa jadi responden yang ditanyai tidak cukup representatif untuk seluruh rakyak Amerika Serikat. Apalagi ini polling tentang sikap manusia yang bisa berubah sebelum dan saat nyoblos. Lebih pasti (bukan berarti gampang) survey terhadap sesuatu yang sulit berubah seperti fenomena alam. Tapi itu memang kurang menarik bagi kita. Tidak ada konten entertainmentnya.

Comments

Title

Title

cialis

cialis

viagra

cheap cialis

buy cialis

viagra

cheap cialis

Title

cialis

viagra

cialis

cialis

cialis

viagra

buy cialis

buy viagra

viagra

cialis

cheap viagra

free cialis samples

viagra

buy cialis online

viagra

buy viagra

viagra

cialis

cheap cialis

buy viagra

Title

cheap cialis

cheap viagra