Masalah Warisan dan Matematika

Oleh: Al Jupri *Master Student of Freudenthal Institute, Utrecht University, The Netherlands; Jurusan Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Indonesia* e-mail: 1. y_saeda@yahoo.com Cerita berikut ini sudah cukup terkenal. Sering diceritakan oleh para guru matematika, baik sebagai hiburan ataupun teka-teki yang menyenangkan. Bahkan sering pula digunakan oleh orang-orang yang bergerak di bidang kepelatihan (training). Ceritanya mengisahkan seorang petani yang berwasiat untuk ketiga orang anaknya. Cerita lengkapnya kira-kira seperti berikut ini. Jaman dahulu di sebuah desa yang subur hiduplah seorang petani yang sudah tua (istrinya telah tiada) beserta tiga orang anaknya. Petani tersebut hidup berkecukupan. Punya sawah, ladang, dan ternak yang cukup. Hingga suatu hari petani tersebut sakit. Dan, tak lama kemudian petani tersebut meninggal. Untunglah, sebelum meninggal petani tersebut membuat wasiat untuk ketiga anaknya. Isi wasiatnya tentang pembagian harta berupa sawah, ladang, dan ternak berupa 19 ekor kambing yang ia miliki. Untuk pembagian harta berupa sawah dan ladang tak bermasalah. Sedangkan untuk pembagian ternak 19 ekor kambing cukup bermasalah dan menimbulkan perselisihan di antara ketiga orang anak petani tersebut. Dalam wasiatnya tertulis bahwa anak pertama mendapat setengah (1/2) bagian dari 19 ekor kambing, anak kedua mendapat seperempat (1/4) bagiannya, dan anak ketiga mendapat seperlima (1/5) bagian. Berdasarkan wasiat itu berarti anak pertama mendapat sembilan setengah (9 1/2) kambing, anak kedua mendapat empat tiga perempat (4 3/4), dan anak ketiga mendapat tiga empat perlima (3 4/5). Mereka berselisih, bingung, tak tahu bagaimana membagi kambing-kambingnya. Mereka saling tak mau mengalah. Sudah banyak saran dan nasihat dari orang lain tentang pembagian harta warisan ini, namun belum ada yang dapat menyelesaikannya. Hingga akhirnya, mereka meminta bantuan pada orang yang dianggap paling bijak di daerahnya. Kebetulan orang bijak tersebut dikenal sebagai orang yang pandai (jaman sekarang mungkin profesor) dalam matematika. Dengan disaksikan para tetangga dan orang-orang terdekat keluarga petani tersebut, orang bijakpun mulai bekerja. Setelah mengetahui duduk persoalannya orang bijakpun berkata, “Siapa di antara kita yang punya seekor kambing saja?” Salah seorang tetangga menyahut “Saya”. Kemudian orang bijak itupun meminjamnya (seekor kambing). Begini, sekarang kambing ini saya berikan sama kalian (tiga anak petani). Sekarang jumlah kambingnya ada 20 ekor. Jadi, sesuai wasiat, sekarang anak pertama mendapat 10 ekor kambing (1/2 dari 20), anak kedua mendapat 5 ekor kambing (1/4 dari 20), dan anak ketiga mendapat 4 ekor kambing (1/5 dari 20). Kemudian orang bijak itupun bertanya kepada tiga anak yang berselisih tersebut, “Apakah kalian puas dengan pembagian ini?” Mereka menjawab “Ya, sangat puas”. Jadi, sekarang kalian sudah mendapat 10, 5, dan 4 ekor kambing sesuai wasiat ayah kalian. Sehingga jumlah kambingnya 10 + 5 + 4 = 19. “Satu ekor kambing lagi saya kembalikan ya!” Akhirnya permasalahan wasiat itupun selesai dengan damai, tanpa perselisihan, apalagi pertumpahan darah. Permintaan: Para pembaca yang baik, mohon komentarnya...

Comments

Kesalahan persepsi, bukan hitungan

Ada yang kurang jelas dalam wasiat itu. Apakah maksud pembagiannya (1) 1/2, 1/4, dan 1/5 dari total kambing, ataukah (2) anak pertama mendapat 1/2 dari total kambing, anak kedua mendapat 1/4 dari anak pertama, dan anak ketiga mendapat 1/5 dari anak kedua? Kalau maksud (2), rasanya tidak sulit menjelaskannya. Ini penjumlahan yang tidak pernah habisnya (1/2 + 1/4 + 1/8 + 1/16 + ... tidak akan pernah sama dengan 1). Kalau maksud (1), coba kita hitung pelan-pelan: * Anak 1 mendapatkan 1/2 * 19 = 19/2 (atau 9 1/2), * Anak 2 mendapatkan 1/4 * 19 = 19/4 (atau 4 3/4), * Anak 3 mendapatkan 1/5 * 19 = 19/5 (atau 3 4/5). Jika ditotalkan, 19/2 + 19/4 + 19/5 = 18 1/20 alias tidak sama dengan 19. Jelas, karena jatah pembagian 1/2 + 1/4 + 1/5 < 1. Dengan kata lain, ada 19/20 kambing tersisa yang tidak terbagikan. Untuk membuat total kambing kembali menjadi 19 setelah dibagi, maka harus ada 1 kambing tambahan. Satu kambing tambahan ini kemudian dibagi ketiga anak sesuai dengan jatah pembagian: * Anak 1 mendapatkan 1/2 * 1 = 1/2, * Anak 2 mendapatkan 1/4 * 1 = 1/4, * Anak 3 mendapatkan 1/5 * 1 = 1/5. Sehingga anak 1 mendapatkan 9 1/2 (dari 19 kambing warisan) + 1/2 (dari 1 kambing tambahan), anak kedua 4 3/4 + 1/4, dan anak ketiga 3 4/5 + 1/5. Kita hitung lagi: * Anak 1 akhirnya mendapatkan 10 kambing, * Anak 2 akhirnya mendapatkan 5 kambing, * Anak 3 akhirnya mendapatkan 4 kambing, dan totalnya menjadi 19 kambing. Permasalahannya di sini adalah total jatah pembagian tidak 1. Artinya, si ahli waris telah menerima 1 19/20 kambing yang bukan hak mereka, hehehe.

Analisa yang Kritis

Terimakasih atas analisanya, sebuah analisa yang kritis. Maksud cerita tersebut adalah maksud (1). Tapi.... Saya tertarik dengan apa yang tertulis di maksud (2), "Kang" Febdian menulis bahwa: 1/2 + 1/4 + 1/8+ 1/16 + .... tidak akan pernah sama dengan 1. Coba kita lihat pelan-pelan, misalkan S = 1/2 + 1/4 + 1/8+ 1/16 + ..., maka 1/2 S = 1/4 + 1/8 + 1/16 + .... Jadi, S - 1/2 S = 1/2 atau hal ini sama saja dengan 1/2 S = 1/2 alias S = 1. Karena S = 1/2 + 1/4 + 1/8+ 1/16 + ... dan S = 1, maka dapat dikatakan bahwa: 1/2 + 1/4 + 1/8+ 1/16 + ... = 1. Terimakasih sebelum dan sesudahnya...

Achill dan kura-kura

Oh, maksud (2) itu mirip dengan kasus lomba lari antara [Achill dan kura-kura](http://www.mister-mueller.de/mathe/beispiele/achill/achill_en.htm) hehe — dikenal juga dengan [Parakdos Zeno](http://en.wikipedia.org/wiki/Zeno%27s_paradoxes). Saya terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kalau penjumlahannya "konvergen", tentu akan sama dengan 1 — begitu bukan?

Tulis lg dong cerita yg laennya

Ass. Terus terang saya saya suka cerita yg kaya gini Tolong di koreksi ama Bang Febdian juga, jadi saya bisa tahu kelemahan dari cerita tersebut Trima Kasih Wassalam