Tue, 2006-12-26 21:37 — Al Jupri
Oleh: Al Jupri
*Master Student of Freudenthal Institute, Utrecht University, The Netherlands*
*Jurusan Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Indonesia (Dulu namanya IKIP Bandung), Bandung*
Di jaman yang serba susah begini, ternyata ada saja cerita-cerita menarik seputar kehidupan yang bisa diambil hikmahnya baik untuk pembelajaran di kehidupan sehari-hari ataupun di kelas, khususnya matematika. Terkadang ceritanya lucu, tapi seringkali membuat kita prihatin. Biasa…., ceritanya berkisar di masalah ekonomi. Di satu sisi daya beli masyarakat kita lagi sekarat, di sisi lain harga barang-barang bagai mencekik leher saja. Keadaan seperti ini, membuat sebagian masyarakat kita jadi beringas, tak sabaran, ingin menang sendiri, dan sebagainya. Daripada saya cerita tentang orang lain, takut bikin dosa, mendingan saya buat cerita tentang si tukang minyak di jaman krisis begini. Mau kan Anda membaca dan menanggapinya?
Ceritanya begini. Tersebutlah si tukang minyak tanah, namanya Udin, yang rajin menjajakan minyaknya dari kampung ke kampung. Dengan gerobak dorongnya, tiap hari dia menjajakan minyaknya. Lancar tidaknya Udin dalam menjual minyak tergantung dari stok di pasaran. Bila stoknya cukup, lancarlah dia berjualan. Bila stoknya kurang, maka masalah menghadang. Biasanya masyarakat berebut dalam membeli minyaknya. Hingga, suatu hari, pada saat stok kurang terjadilah insiden yang nyaris menyulut keributan antar pembeli minyak. Bagaimana bisa seperti itu?
Pada saat stok kurang, walau berhasil bisa terus berjualan, Udin punya masalah. Bukan hanya para pembeli yang saling berebut, juga ia lupa membawa semua takaran literan minyak yang ia punya. Udin hanya membawa takaran yang 8 liter, 5 liter, dan 3 liter. Awalnya tak masalah karena kebanyakan pembelinya membeli sesuai takaran yang dimilikinya, sehingga untuk sementara aman-aman saja. Tapi, setelah minyaknya hampir habis, tersisalah dua pembeli. Dan kebetulan sisa minyak yang ada hanya 8 liter. Dua pembeli ini saling berebut ingin memborong semua minyak yang tersisa. Namun, sebagai penjual yang bijak, akhirnya Udin bisa mendamaikan keduanya, dan bersepakatlah keduanya akan membeli masing-masing separuh minyak yang tersisa, yaitu masing-masing 4 liter. Celakanya, masalah timbul karena Udin tak membawa takaran yang memuat 4 liter. Nah, sekarang Udin sangat bermasalah, ia bingung bagaimana harus membaginya dengan hanya menggunakan takaran 8 liter, 5 liter, dan 3 liter saja. Di lain pihak, kedua pembeli bersikeras harus mendapatkan masing-masing tepat 4 liter sesuai kesepakatan. Coba, Anda wahai pembaca, bantulah Udin menyelesaikan masalahnya. Bantuan Anda akan bermanfaat bagi perdamaian….semoga! Oh iya, ada berapa cara yang bisa dilakukan untuk melakukan pembagian tersebut? Beri penjelasan yang lengkap, sehingga Udin bisa menuntaskan masalahnya….Terimakasih.
Comments
Mudah Aza