"Banyak Anak = Banyak Rezeki"

Oleh: Al Jupri Banyak di antara ratusan juta orang Indonesia yang percaya pada perkataan “banyak anak tentu banyak rezeki”. Saking percayanya pada perkataan ini, maka banyak yang menginginkan punya banyak anak. Faktanya, di kampung tempat saya dibesarkan, hampir tiap pasangan suami-istri memiliki anak lebih dari empat. Termasuk ayah dan ibu saya yang mempunyai enam orang anak. Lantas, apa benar bila banyak anak itu akan banyak rezeki? Nanti kita lihat jawabannya. Seiring perkembangan jaman, oleh sebagian orang yang merasa “terdidik”, perkataan bahwa “banyak anak tentu banyak rezeki” ini dianggap salah. Salahnya perkataan tersebut tentu ada alasannya. Mereka beralasan dengan memberi contoh sederhana yang cukup realistis, katanya begini, misalkan seseorang bermata pencaharian sebagai “kuli”, yang berpenghasilan “tak pasti” sehari-harinya sekitar Rp. 20.000,-. serta punya enam orang anak. Bila keadaannya seperti ini, lantas bagaimana anak-anaknya diberi makan? Apa cukup? Kalaupun dicukup-cukupkan, apakah makanan yang dimakan itu bergizi? Terus, bagaimana biaya pendidikannya? Biaya kesehatannya? Biaya-biaya yang lainnya? Atas pertimbangan semacam inilah pemerintah kita tak tinggal diam, program KB (Keluarga Berencana) dianggap sebagai salah satu solusinya. Sejak tahun 1970an pemerintah kita (Indonesia) menggalakan program KB tersebut, dengan beberapa tujuannya yaitu untuk mengurangi angka kelahiran dan untuk meningkatkan kesejahteraan. Dari kota hingga pelosok desa program KB ini digemborkan pemerintah. Dan, tentunya tangan-tangan pemerintah menjamah ke segenap penjuru Nusantara kita. Berduyun-duyun masyarakatpun mengikutinya, walau banyak pro dan kontranya. Lalu, apakah program KB di Indonesia berhasil? Banyak kalangan menganggap berhasil. Bahkan sampai para penyuluh KB kita diminta pemerintah India untuk memberi penyuluhan di sana, karena katanya Indonesia berhasil mengendalikan angka kelahiran melalui KB. Namun, faktanya banyak juga keluarga-keluarga yang punya banyak anak. Dan dalam rentang waktu sekitar 30 tahun saja, sejak digulirkannya program KB ini penduduk Indonesia jumlahnya berlipat hingga ratusan juta jiwa. Begitu juga kesejahteraan yang merupakan salah satu tujuan masih tampak di awang-awang, masih jauh dengan yang namanya “sejahtera”. Apalagi sekarang (tahun 2007), beras saja sulit terbeli oleh kebanyakan masyarakat “kelas ekonomi”. Repot juga ya pemerintah kita? Makin banyak penduduk, makin banyak juga masalahnya. Kata Gus Dur, “Gitu aja kok repot”. Ada benarnya juga ya Gus Dur itu? Daripada saya ikut-ikutan repot memikirkan masalah di luar kesanggupan saya, mendingan saya bercerita saja, tentunya cerita yang terkait dengan perkataan “banyak anak tentu banyak rezeki”. Apa yang mau saya ceritakan? Yang pasti, cerita berikut hanya cerita rekaan saya saja. Lengkapnya, mari kita simak bersama-sama. Begini ceritanya, tersebutlah sebuah **KB** (**K**eluarga **B**esar) di negeri dongeng. **KB** ini terdiri dari enam orang anak, seorang ibu dan tentunya seorang ayah. Sang ayah bernama Harun, dan sang ibu bernama Harum. Sedangkan anak-anaknya dari yang tertua sampai yang termuda bernama: Andi, Budi, Cecep, Dedi, Endang, dan Fenna. Pak Harun adalah seorang guru matematika di SMP. Sedangkan Bu Harum seorang ibu rumah tangga biasa. Andi duduk di bangku SMA kelas 3, Budi kelas 3 SMP, Cecep kelas 2 SMP, Dedi kelas 6 SD, Endang kelas 4 SD, dan Fenna kelas 3 SD. Keluarga Pa Harun ini hidup dalam keadaan yang benar-benar sederhana, bukan pura-pura sederhana seperti para pejabat di negerinya. Dan tentunya dengan kondisi kesejahteraan yang dicukup-cukupkan. Maklum gaji guru di negerinya jauh dari kelayakan. Tapi, sebagai orang yang taat beragama, Pak Harun dan keluarganya tetap bersyukur pada yang maha pemberi rezeki, Allah SWT. Mereka hidup dalam suasana yang boleh dikatakan penuh rasa kebersyukuran. Suatu hari, selepas makan malam bersama, terjadilah obrolan menarik di antara mereka. Obrolannya seperti berikut ini. **Pak Harun** : “Ini ayah punya uang Rp.20.000, sebenarnya uangnya ingin ayah bagikan nih sebagian ke kalian berenam dan sebagian lagi buat ibu. Sebelum ayah bagikan, ayah punya tebak-tebakan ringan nih. Bila masing-masing kalian bisa menjawab dengan benar, ayah baru akan membagikannya. Mau kan? **Fenna** : “Mau-mau, saya mau,... tapi jangan susah-susah ya tebak-tebakannya Yah...?” **Endang** : “Iya, saya juga mau….” Anak-anak yang lainpun menginginkan dapat uang tersebut, dan setuju untuk menjawab tebak-tebakan dari ayah mereka. Sedangkan Bu Harum, hanya senyum-senyum saja sambil membereskan meja makan. **Pa Harun** : “ Begini tebak-tebakannya, uang ayahkan Rp.20.000 nih…, ayah ingin ngasih sebagian buat ibu, sebagian buat kalian berenam, dengan syarat selisih/beda uang yang ayah berikan ke kalian berenam dan yang ayah berikan buat ibu adalah Rp. 6.000. Berapa uang yang harus ayah kasihkan ke ibu?” Keenam anak Pak Harun mulai berfikir. Ada yang mengambil pencil dan kertas ada juga yang hanya merenung sambil melihat langit-langit rumah mereka. Dan beberapa saat kemudian… **Andi** : “Saya tahu, saya tahu jawabannya...” Dan tak ketinggalan Budi dan Cecep pun mengatakan bahwa mereka juga tahu jawabannya. Tapi, Pak Harun mengatakan bahwa mereka harus tahu dulu jawaban adik-adik mereka yang masih duduk di bangku SD. Jadi, sementara jawaban mereka jangan dikatakan dulu. **Pak Harun** : “Bagaimana Fenna, udah belum...?” Ternyata Fenna masih asyik berfikir, dan ia mengatakan “belum” ke ayahnya. Terus, Pak Harun bertanya ke Endang. Dan kebetulan Endang sudah bisa menyelesaikan tebak-tebakan tersebut. Begini katanya…. **Endang** : “ Ayah, ini saya udah bisa…” **Pak Harun** : “ Coba bagaimana kamu menyelesaikannya…?” **Endang** : “ Nah, begini caranya …” Endang menuliskan caranya di atas kertas, seperti berikut ini. Jawaban Endang: 20000 = 10000 + 10000; Tapi selisihnya 10000 – 10000 = 0. Jadi, bukan ini jawabannya. 20000 = 11000 + 9000; Tapi selisihnya 11000 – 9000 = 2000. Jadi, bukan ini jawabannya. 20000 = 12000 + 8000; Tapi selisihnya 12000 – 8000 = 4000. Jadi, bukan ini jawabannya. 20000 = 13000 + 7000; Dan, selisihnya 13000 – 7000 = 6000. Nah, ini dia jawabannya. Jadi, ayah memberi uang ke ibu sebesar Rp. 7.000 atau Rp. 13.000. **Pak Harun** : (sambil manggut-manggut) “Ya... ya... benar.” Segera setelah itu, Dedi pun mengemukakan jawabannya secara lisan, seperti berikut ini. **Dedi**: “Karena jumlah uang yang mau diberikan Rp.20.000, maka bila dibagi dua hasilnya adalah Rp. 10.000; Dan, karena selisih uang yang mau diberikan ke kami dan ke Ibu adalah Rp.6.000, maka bila dibagi dua hasilnya Rp. 3.000,-. Jadi, uang yang diberikan ke kami adalah Rp. 10.000 + Rp. 3.000 = Rp. 13.000; dan, uang yang diberikan ke Ibu adalah Rp. 10.000 – Rp. 3.000 = Rp. 7.000. Bisa juga sebaliknya, ayah *ngasih* ke Ibu Rp. 13.000,- dan *ngasih* ke kami Rp. 7.000.” **Pak Harun** : “ Iya ya, benar juga kamu. Hebat sekali! Kamu hanya pakai kepandaian berkata-kata saja, dan benar”. Sedangkan Jawaban Cecep tak kalah hebatnya, ia menuliskannya seperti berikut ini. Karena jumlah uang yang akan diberikan Rp.20.000 dan selisihnya Rp.6.000, maka tentunya jumlah uang yang diberikan tak sama, artinya ada yang lebih banyak dan ada yang sedikit. Misalkan jumlah uang yang sedikit itu adalah x, maka jumlah uang yang lebih banyak itu adalah x + 6000. Jadi, jumlah kedua uang itu x + (x + 6000) = 20000 2x + 6000 = 20000. Nah, dengan mudah persamaan ini dapat diselesaikan yaitu: 2x = 20000 – 6000 2x = 14000 x = 7000 Sehingga, uang yang akan diberikan ke ibu atau ke kami berenam adalah Rp. 7.000 atau Rp 7.000 + Rp 6.000 = Rp 13.000,- **Pak Harun**: “Wah, cara yang kamu pakai sudah pakai simbol x segala…, bagus….” Budi menjawab dengan cara yang tampak rumit (menggunakan variabel x dan y) seperti berikut. Misalkan jumlah uang yang akan dibagikan itu adalah x dan y. Berdasarkan keterangan pada tebak-tebakan ayah tadi, maka dapat ditulis seperti berikut. x + y = 20000; ini disebut persamaan (1); dan x – y = 6000; ini disebut persamaan (2). Bila persamaan (1) ditambah persamaan (2), maka akan diperoleh persamaan 2x = 26000 atau sama saja dengan x = 13000. Dan, bila persamaan (1) dikurangi persamaan (2), akan diperoleh 2y = 14000; atau y = 7000. Jawaban yang dilakukan Andi tampak jauh lebih rumit lagi, seperti berikut ini. Misalkan jumlah uang itu adalah m, dan selisihnya adalah n, maka m = x + y; dan n = x – y . Sehingga m + n = 2x alias x = (m+n)/2; dan m-n = 2y alias y = (m-n)/2. Dengan mengganti m dengan Rp. 20.000 dan n diganti dengan Rp. 6.000, maka diperoleh x = Rp. 13.000 dan y = Rp. 7.000. Menyaksikan jawaban-jawaban yang beraneka ragam itu, Pak Harun jadi berfikir dan berdzikir. Berfikir karena ingat dengan ungkapan bahwa: “Lain kepala, lain pula pikiran seseorang”. Dan ini benar-benar terjadi pada anak-anaknya. Berdzikir karena ingat akan ajaran agama (tentunya mengingat Allah SWT) yang menyatakan bahwa: “Rezeki itu tak hanya berupa harta, tapi juga bisa berupa ilmu”. Dan ini benar-benar ia dapatkan, dengan menyaksikan cara-cara yang berbeda yang dilakukan anak-anaknya. Pak Harun berfikir bahwa baru saja ia mendapat rezeki yang berlimpah-ruah banyaknya berupa ilmu dari anak-anaknya. Akhirnya, ia berkesimpulan secara matematis bahwa “ Banyak Anak = Banyak Rezeki”. Nah, wahai pembaca, begitu ceritanya. Mudah-mudahan ada manfaat yang bisa diambil dari cerita tersebut. Oh iya, ada bagian yang tak saya ceritakan dari cerita tadi. Apa itu? Ya, tentang Fenna dan juga Bu Harum. Kira-kira bagaimana Fenna menyelesaikan permasalahan dalam cerita di atas? Bagaimana pula Bu Harum menyelesaikannya? email saya: y_saeda@yahoo.com Tentang Penulis: Master Student of Freudenthal Institute, Utrecht University, The Netherlands; Jurusan Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Indonesia (dulu namanya IKIP Bandung)

Comments

Pak Harun : “ Iya ya,

Pak Harun : “ Iya ya, benar juga kamu. Hebat sekali! Kamu hanya pakai kepandaian berkata-kata saja, dan benar”. Pak Harun, jangan gitu donk...kata2 "Kamu hanya pakai kepandaian berkata-kata saja" terutama kata "hanya" itu kok kayaknya kurang edukatip dan motipatip. Kata2 tersebut bisa mengaburkan kata pujian di awal kalimat Besok2 beri tanggapan yg lebih motipatip donk Ya maap kalau saya salah... (Bajaj Bajuri™)

bacanya yg lengkap dunk...

Klo aku mikirnya gini....pak Harun malah memuji banget, lihat dong kalimatnya yang lengkap jangan dipotong... neeh lihat Pak Harun : “ Iya ya, benar juga kamu. Hebat sekali! Kamu hanya pakai kepandaian berkata-kata saja, dan benar”.

ck...ck...salut ama pak jupri

wah pak jupri...bisa ga menjelaskan teori relativitas dari sisi matematika terus terang ane binun :D

eh iya deng...

weleh...lupa... pak jupri nih propesor yak...?hehehe...sekalian nanya pak...gimana jawaban si Fenna anak bungsunya pak harun yak...? apa dia juga bisa mecahin masalah ini? toh kalaupun bisa, pastinya jawaban matematis kk2nya dah cukup. ane sih bayanginnya jawaban fenna lebih ekonomis. "oia ayah fenna dah dapet jawabannya" ujar Fenna sambil nyengir. "apa jawabannya anakku yg paling lucu" jawab pak Harun "anu yah, Fenna pake rumus persamaan juga" lanjut Fenna. Kontan jawaban Fenna ini mengagetkan kk2nya serta ayahnya sendiri. "Bagaimana bisa? anak SD yg masih ditingkat 3 tersebut bisa menjawab dengan rumus persamaan?" mungkin seperti itu pemikiran ayah dan saudara2 Fenna. "wah ade' hebat dong!" seru Andi. "kalo gitu jelasin dong ke kk2" permintaan Andi ini dianggukan oleh saudara2nya yg lain. "baik" lanjut Fenna. "Begini loh... melihat jawaban dari kk2 tadi Fenna mengambil satu kesimpulan bahwa...meski berbeda jalan pemecahannya, tapi ternyata satu jawaban...nah dari semua jawaban kk yg sama, Fenna menyimpulkan bahwa semua jawaban benar" jelas Fenna sambil nyengir...dilanjutkan dengan kk2nya yg ber'huu' ria serta senyum dari ayahnya.. :P

Lucu deh...

Iya, saya setuju-setuju saja. Lucu deh.... Eh, kalau jawaban lucu Bu Harum bagaimana ya?

Afwan mas jupri, ane becande

Yah kembali pada hukum relativitas, :D antum sing nduwe soal, aku wong lio pikirane beda karo koen... jadi ya aku golek sing aku ngerti... :D relatif mas yo... kalo antum sendiri jawaban si Fenna bagaimana? kan antum yg bikin tuw tokoh.. mohon jangan tersinggung ya mas.. becanda.. :D

Lucu deh... = Maksud saya benaran lucu

*Engga*, *engga* marah kok. Saya menulis "Lucu deh..." artinya berarti "lucu sekali". Ternyata, memang bahasa tulis itu dapat juga menimbulkan salah interpretasi/penafsiran. Saya yang salah...Harusnya, saya yang minta maaf. Maaf ya kawan Amiv.... Oh iya, untuk masalah relativitas, baiknya bertanya ke ahli Fisika (Bang Febdian yang ahlinya). Bertanya ke ahli Fisika, nanti akan dapat penjelasan matematis juga. Bagaimana Fenna menjawab? Nah, itu bagian para pembaca... Maaf ya... (lain kali, saya perlu cek ulang komentar saya biar tak salah...)

waduh jadi ga enak bodi nih..

waduh maaf banget mas, ga boleh merendah gitu tho...wong ini space antum kok. begini lho..mas kenapa dulu waktu ane sd ampe smp tu kok ga dong banget ama matematika ya? apa kemungkinan karena gurunya ga pinter menerangkan kali ya mas?

Setuju

Hmm... Saya dengan pendapat Amiv. Dulu saya ngalami seperti itu juga. Saya yang bego gini, senang dengan matematika kalo pas gurunya menjelaskan dengan enak dan mudah. Tapi anehnya, ketika menurut saya guru itu gak pinter menerangkan pelajaran, teman saya yang lainnya malah bisa ngerti pelajaran yang diterangkan guru tsb. Ternyata teman saya itu emang pinter otaknya, saya aja yang bego. Rasanya saya ingin protes dengan guru (seperti guru matematika saya), yang patokan keberhasilannya mengajar adalah dari kemampuan anak-anak pinter menyelesaikan tugas. Sedangkan murid yang bego, tetap aja dibiarin bego, dan dicap bego.

Hhmmm…. Rasanya semua cara

Hhmmm…. Rasanya semua cara pasti hasilnya sama, apa mungkin masih tersisa cara lain? Hehehehe… pertanyaan ini kedengaran lucu, habis… jawaban semuanya sudah diborong pembuat soalnya sendiri. Kalau orang yang memiliki pemikiran sederhana atau punya pemahaman yang kurang terhadap matematika, contohnya saya. Dengan izinNya, saya hanya bisa menjawab dengan cara2 seperti di bawah ini: Jawaban Ibu Harun yaitu uang tersebut terlebih dahulu dibagikan kepada anaknya yang berjumlah 6 orang sebagai bukti ia sayang kepada anak-anaknya, jumlahnya adalah Rp 6.000. Maka uang yang tersisa adalah Rp 14.000. Kemudian si Ibu menghitung selisih keduanya, ternyata selisihnya adalah Rp 8.000. Agar selisihnya menjadi 6.000, maka si ibu mengurangi sisa uang dengan Rp 1. 000 maka : 14000 – 1.000 = 13.000. Ini menjadi jatah ibu Harum, ternyata ia ingin mendapat bagian yang lebih dari anaknya. Sedangkan 1000 di tambahkan lagi untuk jatah anaknya yaitu 6000 + 1000 = 7000. Meskipun jawaban anak2nya lebih bagus, tapi yang namanya anak tetap aja dapat bagian yang sedikit. Selanjutnya, kita tunggu aja reaksi atau komentar dari Pak Harun dari jawaban isterinya. Oh ya, untuk Fenna akan bantu ia untuk menjawabnya karena dia masih kelas 3 SD mungkin sedikit kesulitan ia menjawabanya. Pertama saya bisikan Fenna untuk meminjam coretan kakaknya, Budi. Persamaan yang di tulis Budi adalah: x + y = 20000 …………………….. (1) x – y = 6000 dirubah menjadi : x = 6000 + y ……………………..... (2) Kemudian Persamaan 2 dimasukkan ke persamaan 1, hasilnya: (6000 + y) + y = 20000 6000 + 2y = 20000 2y = 14000 y = 7000 Nilai y dah didapat, tinggal mencari nilai x dengan memasukkan nilai y ke dalam salah satu persamaan tadi.

Cara Cantik "nan" Memikat...

Terimakasih ya jawabannya. Bagi saya, cara seperti ini sangat nyata. Seperti kisah nyata saja. Padahal, saya membuat ceritanya cuma pakai hayalan belaka. Saya kagum jadinya, cara yang cantik dan memikat hati saya.... Benar ya apa yang dikatakan Pak Harun, "Lain kepala, lain pula pikiran seseorang"... Oh iya, mohon maaf pada siapa pun bila ada nama-nama yang saya pakai. Bila ada kesamaan, itu cuma kebetulan saja. Saya gunakan nama Pak Harun, karena saya ingat semasa saya di kelas 1 SD dulu (1988). Sedangkan nama Bu Harum, saya ingat sebuah lelucon dari lagu, "ibu kita Kartini, Harum namanya... dan seterusnya". Jadi, ibu kita Kartini itu namanya **Harum**. Sedangkan, nama-nama yang lain saya buat berurutan sesuai abjad, untuk memudahkan saja. (Maaf, jadinya saya ingat yang lucu-lucu terus nih....Pingin ketawa jadinya..)