Mon, 2007-02-26 22:07 — Al Jupri
Oleh: Al Jupri
Banyak di antara ratusan juta orang Indonesia yang percaya pada perkataan “banyak anak tentu banyak rezeki”. Saking percayanya pada perkataan ini, maka banyak yang menginginkan punya banyak anak. Faktanya, di kampung tempat saya dibesarkan, hampir tiap pasangan suami-istri memiliki anak lebih dari empat. Termasuk ayah dan ibu saya yang mempunyai enam orang anak. Lantas, apa benar bila banyak anak itu akan banyak rezeki? Nanti kita lihat jawabannya.
Seiring perkembangan jaman, oleh sebagian orang yang merasa “terdidik”, perkataan bahwa “banyak anak tentu banyak rezeki” ini dianggap salah. Salahnya perkataan tersebut tentu ada alasannya. Mereka beralasan dengan memberi contoh sederhana yang cukup realistis, katanya begini, misalkan seseorang bermata pencaharian sebagai “kuli”, yang berpenghasilan “tak pasti” sehari-harinya sekitar Rp. 20.000,-. serta punya enam orang anak. Bila keadaannya seperti ini, lantas bagaimana anak-anaknya diberi makan? Apa cukup? Kalaupun dicukup-cukupkan, apakah makanan yang dimakan itu bergizi? Terus, bagaimana biaya pendidikannya? Biaya kesehatannya? Biaya-biaya yang lainnya?
Atas pertimbangan semacam inilah pemerintah kita tak tinggal diam, program KB (Keluarga Berencana) dianggap sebagai salah satu solusinya. Sejak tahun 1970an pemerintah kita (Indonesia) menggalakan program KB tersebut, dengan beberapa tujuannya yaitu untuk mengurangi angka kelahiran dan untuk meningkatkan kesejahteraan. Dari kota hingga pelosok desa program KB ini digemborkan pemerintah. Dan, tentunya tangan-tangan pemerintah menjamah ke segenap penjuru Nusantara kita. Berduyun-duyun masyarakatpun mengikutinya, walau banyak pro dan kontranya.
Lalu, apakah program KB di Indonesia berhasil? Banyak kalangan menganggap berhasil. Bahkan sampai para penyuluh KB kita diminta pemerintah India untuk memberi penyuluhan di sana, karena katanya Indonesia berhasil mengendalikan angka kelahiran melalui KB. Namun, faktanya banyak juga keluarga-keluarga yang punya banyak anak. Dan dalam rentang waktu sekitar 30 tahun saja, sejak digulirkannya program KB ini penduduk Indonesia jumlahnya berlipat hingga ratusan juta jiwa. Begitu juga kesejahteraan yang merupakan salah satu tujuan masih tampak di awang-awang, masih jauh dengan yang namanya “sejahtera”. Apalagi sekarang (tahun 2007), beras saja sulit terbeli oleh kebanyakan masyarakat “kelas ekonomi”.
Repot juga ya pemerintah kita? Makin banyak penduduk, makin banyak juga masalahnya. Kata Gus Dur, “Gitu aja kok repot”. Ada benarnya juga ya Gus Dur itu? Daripada saya ikut-ikutan repot memikirkan masalah di luar kesanggupan saya, mendingan saya bercerita saja, tentunya cerita yang terkait dengan perkataan “banyak anak tentu banyak rezeki”. Apa yang mau saya ceritakan? Yang pasti, cerita berikut hanya cerita rekaan saya saja. Lengkapnya, mari kita simak bersama-sama.
Begini ceritanya, tersebutlah sebuah **KB** (**K**eluarga **B**esar) di negeri dongeng. **KB** ini terdiri dari enam orang anak, seorang ibu dan tentunya seorang ayah. Sang ayah bernama Harun, dan sang ibu bernama Harum. Sedangkan anak-anaknya dari yang tertua sampai yang termuda bernama: Andi, Budi, Cecep, Dedi, Endang, dan Fenna. Pak Harun adalah seorang guru matematika di SMP. Sedangkan Bu Harum seorang ibu rumah tangga biasa. Andi duduk di bangku SMA kelas 3, Budi kelas 3 SMP, Cecep kelas 2 SMP, Dedi kelas 6 SD, Endang kelas 4 SD, dan Fenna kelas 3 SD.
Keluarga Pa Harun ini hidup dalam keadaan yang benar-benar sederhana, bukan pura-pura sederhana seperti para pejabat di negerinya. Dan tentunya dengan kondisi kesejahteraan yang dicukup-cukupkan. Maklum gaji guru di negerinya jauh dari kelayakan. Tapi, sebagai orang yang taat beragama, Pak Harun dan keluarganya tetap bersyukur pada yang maha pemberi rezeki, Allah SWT. Mereka hidup dalam suasana yang boleh dikatakan penuh rasa kebersyukuran. Suatu hari, selepas makan malam bersama, terjadilah obrolan menarik di antara mereka. Obrolannya seperti berikut ini.
**Pak Harun** : “Ini ayah punya uang Rp.20.000, sebenarnya uangnya ingin ayah bagikan nih sebagian ke kalian berenam dan sebagian lagi buat ibu. Sebelum ayah bagikan, ayah punya tebak-tebakan ringan nih. Bila masing-masing kalian bisa menjawab dengan benar, ayah baru akan membagikannya. Mau kan?
**Fenna** : “Mau-mau, saya mau,... tapi jangan susah-susah ya tebak-tebakannya Yah...?”
**Endang** : “Iya, saya juga mau….”
Anak-anak yang lainpun menginginkan dapat uang tersebut, dan setuju untuk menjawab tebak-tebakan dari ayah mereka. Sedangkan Bu Harum, hanya senyum-senyum saja sambil membereskan meja makan.
**Pa Harun** : “ Begini tebak-tebakannya, uang ayahkan Rp.20.000 nih…, ayah ingin ngasih sebagian buat ibu, sebagian buat kalian berenam, dengan syarat selisih/beda uang yang ayah berikan ke kalian berenam dan yang ayah berikan buat ibu adalah Rp. 6.000. Berapa uang yang harus ayah kasihkan ke ibu?”
Keenam anak Pak Harun mulai berfikir. Ada yang mengambil pencil dan kertas ada juga yang hanya merenung sambil melihat langit-langit rumah mereka. Dan beberapa saat kemudian…
**Andi** : “Saya tahu, saya tahu jawabannya...”
Dan tak ketinggalan Budi dan Cecep pun mengatakan bahwa mereka juga tahu jawabannya. Tapi, Pak Harun mengatakan bahwa mereka harus tahu dulu jawaban adik-adik mereka yang masih duduk di bangku SD. Jadi, sementara jawaban mereka jangan dikatakan dulu.
**Pak Harun** : “Bagaimana Fenna, udah belum...?”
Ternyata Fenna masih asyik berfikir, dan ia mengatakan “belum” ke ayahnya. Terus, Pak Harun bertanya ke Endang. Dan kebetulan Endang sudah bisa menyelesaikan tebak-tebakan tersebut. Begini katanya….
**Endang** : “ Ayah, ini saya udah bisa…”
**Pak Harun** : “ Coba bagaimana kamu menyelesaikannya…?”
**Endang** : “ Nah, begini caranya …” Endang menuliskan caranya di atas kertas, seperti berikut ini.
Jawaban Endang:
20000 = 10000 + 10000; Tapi selisihnya 10000 – 10000 = 0. Jadi, bukan ini jawabannya.
20000 = 11000 + 9000; Tapi selisihnya 11000 – 9000 = 2000. Jadi, bukan ini jawabannya.
20000 = 12000 + 8000; Tapi selisihnya 12000 – 8000 = 4000. Jadi, bukan ini jawabannya.
20000 = 13000 + 7000; Dan, selisihnya 13000 – 7000 = 6000. Nah, ini dia jawabannya.
Jadi, ayah memberi uang ke ibu sebesar Rp. 7.000 atau Rp. 13.000.
**Pak Harun** : (sambil manggut-manggut) “Ya... ya... benar.” Segera setelah itu, Dedi pun mengemukakan jawabannya secara lisan, seperti berikut ini.
**Dedi**: “Karena jumlah uang yang mau diberikan Rp.20.000, maka bila dibagi dua hasilnya adalah Rp. 10.000; Dan, karena selisih uang yang mau diberikan ke kami dan ke Ibu adalah Rp.6.000, maka bila dibagi dua hasilnya Rp. 3.000,-. Jadi, uang yang diberikan ke kami adalah Rp. 10.000 + Rp. 3.000 = Rp. 13.000; dan, uang yang diberikan ke Ibu adalah Rp. 10.000 – Rp. 3.000 = Rp. 7.000. Bisa juga sebaliknya, ayah *ngasih* ke Ibu Rp. 13.000,- dan *ngasih* ke kami Rp. 7.000.”
**Pak Harun** : “ Iya ya, benar juga kamu. Hebat sekali! Kamu hanya pakai kepandaian berkata-kata saja, dan benar”.
Sedangkan Jawaban Cecep tak kalah hebatnya, ia menuliskannya seperti berikut ini.
Karena jumlah uang yang akan diberikan Rp.20.000 dan selisihnya Rp.6.000, maka tentunya jumlah uang yang diberikan tak sama, artinya ada yang lebih banyak dan ada yang sedikit.
Misalkan jumlah uang yang sedikit itu adalah x, maka jumlah uang yang lebih banyak itu adalah x + 6000. Jadi, jumlah kedua uang itu
x + (x + 6000) = 20000
2x + 6000 = 20000. Nah, dengan mudah persamaan ini dapat diselesaikan yaitu:
2x = 20000 – 6000
2x = 14000
x = 7000
Sehingga, uang yang akan diberikan ke ibu atau ke kami berenam adalah Rp. 7.000 atau Rp 7.000 + Rp 6.000 = Rp 13.000,-
**Pak Harun**: “Wah, cara yang kamu pakai sudah pakai simbol x segala…, bagus….”
Budi menjawab dengan cara yang tampak rumit (menggunakan variabel x dan y) seperti berikut.
Misalkan jumlah uang yang akan dibagikan itu adalah x dan y. Berdasarkan keterangan pada tebak-tebakan ayah tadi, maka dapat ditulis seperti berikut.
x + y = 20000; ini disebut persamaan (1); dan
x – y = 6000; ini disebut persamaan (2).
Bila persamaan (1) ditambah persamaan (2), maka akan diperoleh persamaan 2x = 26000 atau sama saja dengan x = 13000. Dan, bila persamaan (1) dikurangi persamaan (2), akan diperoleh 2y = 14000; atau y = 7000.
Jawaban yang dilakukan Andi tampak jauh lebih rumit lagi, seperti berikut ini.
Misalkan jumlah uang itu adalah m, dan selisihnya adalah n, maka
m = x + y; dan n = x – y . Sehingga m + n = 2x alias x = (m+n)/2; dan m-n = 2y alias y = (m-n)/2. Dengan mengganti m dengan Rp. 20.000 dan n diganti dengan Rp. 6.000, maka diperoleh x = Rp. 13.000 dan y = Rp. 7.000.
Menyaksikan jawaban-jawaban yang beraneka ragam itu, Pak Harun jadi berfikir dan berdzikir. Berfikir karena ingat dengan ungkapan bahwa: “Lain kepala, lain pula pikiran seseorang”. Dan ini benar-benar terjadi pada anak-anaknya. Berdzikir karena ingat akan ajaran agama (tentunya mengingat Allah SWT) yang menyatakan bahwa: “Rezeki itu tak hanya berupa harta, tapi juga bisa berupa ilmu”. Dan ini benar-benar ia dapatkan, dengan menyaksikan cara-cara yang berbeda yang dilakukan anak-anaknya. Pak Harun berfikir bahwa baru saja ia mendapat rezeki yang berlimpah-ruah banyaknya berupa ilmu dari anak-anaknya. Akhirnya, ia berkesimpulan secara matematis bahwa “ Banyak Anak = Banyak Rezeki”.
Nah, wahai pembaca, begitu ceritanya. Mudah-mudahan ada manfaat yang bisa diambil dari cerita tersebut. Oh iya, ada bagian yang tak saya ceritakan dari cerita tadi. Apa itu? Ya, tentang Fenna dan juga Bu Harum. Kira-kira bagaimana Fenna menyelesaikan permasalahan dalam cerita di atas? Bagaimana pula Bu Harum menyelesaikannya?
email saya: y_saeda@yahoo.com
Tentang Penulis:
Master Student of Freudenthal Institute, Utrecht University, The Netherlands;
Jurusan Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Indonesia (dulu namanya IKIP Bandung)
Comments
Pak Harun : “ Iya ya,
bacanya yg lengkap dunk...
ck...ck...salut ama pak jupri
eh iya deng...
Lucu deh...
Afwan mas jupri, ane becande
Lucu deh... = Maksud saya benaran lucu
waduh jadi ga enak bodi nih..
Setuju
Hhmmm…. Rasanya semua cara
Cara Cantik "nan" Memikat...