Wed, 2007-03-07 13:27 — Al Jupri
Oleh: Al Jupri
Beras, beras, beras, dan beras. Hingga saat ini keberadaan “benda” yang namanya beras masih terus menjadi buruan ratusan juta rakyat Indonesia. Diburu karena tiap hari harus ada untuk dimakan. Sayang, perburuan sebagian rakyat Indonesia akhir-akhir ini terganjal. Terganjalnya karena harganya. Ya, harganya yang tak lagi mudah dijangkau. Mahal, mahal, mahal, dan benar-benar mahal sekali. Itulah pastinya kata-kata yang keluar dari masyarakat “kelas ekonomi”.
Saking mahalnya harga beras, banyak masyarakat kita tentunya tak sanggup lagi membelinya. Untuk bisa menghilangkan rasa lapar, tak peduli dengan kandungan gizi, bergizi atau tidak, pokoknya bisa makan; tak peduli rasanya, enak atau tidak, yang penting kenyang. Mereka terpaksa beralih mengkonsumsi makanan lain. Ada yang menggantinya dengan jagung, roti yang sudah “bulukan = berjamur”, singkong, atau umbi-umbian lain yang harganya masih terjangkau. Yang paling menggemparkan, dan bikin heboh negeri yang katanya *subur-makmur gemah ripah loh jinawi* ini adalah adanya sebagian masyarakat yang beralih dari mengkonsumsi beras menjadi mengkonsumsi “nasi aking”. Dalam bahasa saya, di tempat saya dilahirkan dan dibesarkan, namanya “sekul laking”. Sekul (baca: skul = *school*) berarti nasi, dan laking sama saja dengan aking.
Beragam media memberitakan hal ini, cetak, maupun elektronik. Bahkan sebuah televisi swasta menghadirkan konsumen nasi aking ini untuk diwawancarai. Banyak yang terharu mendengar dan menyimaknya. Banyak kalangan turut prihatin. Menjadi perbincangan hangat sampai “panas” beberapa pekan lamanya. Pemerintah “tetangga” pun, Republik BBM (Benar-Benar Mabok) sampai bikin rapat kabinet segala untuk membahas masalah ini. Pemerintah Indonesia, saya duga, malu dibuatnya. Tapi pastinya saya tidak tahu malu atau tidaknya pemerintah kita ini?
Kawan-kawan saya yang juga turut menyimak berita hebohnya masalah “nasi aking” itu turut prihatin. Ya, sebatas prihatin. Tak bisa apa-apa. Namun, tampaknya kawan-kawan saya itu, tak seprihatin saya yang berasal dari golongan masyarakat “kelas ekonomi”. Dari cerita-cerita tentang kehidupan keluarga mereka, dapat ditebak, kawan-kawan saya itu berasal dari golongan masyarakat “kelas bisnis dan eksekutif”. Wajar, turut prihatinnya mereka biasa-biasa saja. Bahkan, mungkin saking “kelas eksekutifnya”, beberapa orang kawan saya itu tak tahu harga beras itu berapa. Padahal sehari-harinya mengkonsumsi beras (nasi). Dan pastinya, benar saja, jelas sekali mereka itu tidak tahu yang namanya nasi aking. Saya makin sedih dibuatnya, tapi bukan berarti saya ingin dikasihani.
Kembali ke “nasi aking”! Apa “nasi aking” itu? Menurut Alwi Shahab, di Republika Online 25 Februari 2007, kurang lebihnya dituliskan begini definisinya, “nasi aking” adalah nasi sisa yang dijemur sampai kering kemudian ditanak untuk dimakan. Singkat, padat, tapi ada bagian yang bagi saya kurang jelas. Saya memakluminya, karena beliau “mungkin” belum pernah tahu nasi aking itu apa, “mungkin” tak tahu pula nasi aking itu seperti apa, dan “mungkin” juga belum pernah menikmati bagaimana rasanya nasi aking itu.
Berdasarkan apa yang saya alami, pengalaman nyata saya. Nasi aking itu, nasi sisa yang seringkali sudah jamuran, yang sengaja dikeringkan dengan cara dijemur sampai jadi beras aking, kemudian ditanak dan dimakan layaknya nasi biasa. Proses pengeringannya, biasanya tak cukup hanya sehari-dua hari saja. Butuh beberapa hari untuk menjemurnya. Hal ini biasa dilakukan oleh masyarakat di tempat saya dibesarkan. Keluarga sayapun sering membuatnya. Kenapa bisa sampai nasi itu bersisa segala? Berarti makmur dong masyarakat di tempat saya tinggal itu? Ada beberapa alasan untuk menjelaskannya.
Saya lahir dan dibesarkan di sebuah kampung pinggiran kota, di salah satu propinsi baru di tanah air ini. Ya, di propinsi Banten, Cilegon kota itu. Masyarakat di sana bisa dikatakan religius. Masih kokoh menjunjung nilai-nilai agama, termasuk di kampung saya. Di daerah itu hampir tiap waktu, bisa seminggu sekali, (setidaknya tiap bulan) ada yang namanya “ngeriung” di masjid, sebagai salah satu bentuk kegiatan religius tadi. “Ngeriung” artinya berdo’a bersama di Masjid dipimpin oleh sang kyai dengan maksud untuk memperingati acara-acara tertentu. Misal, maulid nabi Muhammad, peringatan Isra-Mi’raj, awal puasa Ramadhan, dll. Bisa juga berdo’a bersama memperingati haulnya (ulang tahunnya) kematian seseorang, untuk mendo’akan mereka yang sudah meninggal. Berdo’a bersama ini, tak hanya sekedar berdo’a saja. Tapi, misal keluarga yang memperingati haul, menyuguhkan makanan-makanan, utamanya nasi dan lauk-pauk. Apalagi bila acara semisal maulid tersebut, semua keluarga menyuguhkan makanan berupa nasi dan lauk pauk itu di Masjid. Nasi, lauk-pauk yang disuguhkan ini setelah acara berdo’a bersama dibagi-bagi lagi ke yang ikut berdo’a. Jadinya, tak termakan semua. Pokoknya terasa makmur-berlimpah bila banyak acara seperti itu. Nah, nasi yang tak termakan seperti inilah yang kemudian banyak diproses menjadi beras aking. Jadinya, hampir tiap keluarga memproduksi beras aking, di daerah tempat saya tinggal itu. Penjemuran nasi sisa ini, biasanya di atas atap-atap rumah biar tak diganggu ayam atau bebek atau yang lainnya.
Bila beras aking ini sudah terbentuk, ya disimpan saja, bisa bertahan beberapa tahun lamanya. Biasanya beras aking ini, yang mungkin sudah berjamur, digunakan untuk makanan ayam atau bebek. Ayam yang dipelihara oleh masing-masing keluarga tentunya. Tapi ayampun terkadang tak suka makan beras aking ini. Ayam saja bila kebanyakan memakan nasi/beras aking ini akan terkena penyakit (di kampung saya disebut penyakit "*lelentuk*”).
Selain untuk makanan ayam ataupun bebek milik pribadi, beras aking ini bisa juga dijual ke pedagang. Seringkali banyak pedagang keliling yang sengaja membeli beras aking ini dari penduduk di daerah saya itu. Harganya sih memang tak seberapa. Cuma lumayan saja. Paling mereka membelinya seharga Rp. 300 perliternya (sekitar tahun 1998an), dulu sewaktu saya kecil (tahun 1990an) harganya cuma Rp. 50,- perliternya. Katanya, beras aking yang dibeli para pedagang ini dari masyarakat untuk dijual lagi, dijual ke peternak buat makanan ayam atau bebek.
Bila musim paceklik, beras aking ini bisa juga dimasak jadi nasi aking. Cara masaknya serupa dengan masak beras biasa, cuma beras aking ini harus benar-benar dicuci sebersih-bersihnya. Untuk meningkatkan cita rasa nasi aking ini, biar enak dinikmati mulut, memasaknya dicampur parutan kelapa dan garam. Cukup nikmat juga rasanya, bahkan lebih cepat bikin kenyang dibanding makan nasi biasa. Tapi juga cepat bikin lapar, mungkin karena gizinya sudah sangat berkurang. Nikmatnya nasi aking ini, memang tak senikmat nasi biasa. Tapi, daripada tidak ada yang dimakan, ya mau bagaimana lagi?
Sewaktu saya kecil, saya juga sering menikmati nasi aking ini. Waktu itu juga, di masa yang katanya swasembada beras. ibu saya sempat kewalahan membeli beras biasa. Sebagai gantinya, nasi akinglah yang pernah menyambung hidup kami (termasuk saya) hingga saat ini. Makanya, saya benar-benar bersedih menyaksikan berita masyarakat pengkonsumsi nasi aking. Nangis saya dibuatnya. Pedih rasanya. Tak terasa air mata bercucuran bila mendengar berita seperti ini. Sebenarnya, nasi aking sudah dikonsumsi masyarakat sejak dulu, masyarakat “kelas ekonomi” yang seringnya hidup susah daripada hidup senang. Ya, nasi aking adalah salah satu “pahlawan” yang maju di garis depan menyambung hidup masyarakat “kelas ekonomi”, seperti saya ini.
Oh iya, saya tak boleh bersedih. Saya harus tetap bersyukur. Masih diberi nikmat hidup. Nikmat sehat, dan nikmat-nikmat lainnya (tak terhitung jumlahnya = tak terhingga banyaknya). Biar ada “wangi” matematikanya, “sewangi” nasi aking yang pernah saya nikmati, saya buat soal tentang nasi aking.
Begini soalnya. Sebuah keluarga terdiri dari enam orang anak, satu ayah dan satu ibu mempunyai uang untuk beli beras Rp. 12.500,- untuk jatah selama seminggu. Bila harga 15 liter beras aking = 2 liter harga beras biasa, supaya keluarga itu tercukupi, berapa liter beras yang mereka bisa beli? (Petunjuk: (1) tentunya Anda perlu menentukan pilihan, beras aking atau beras biasa; (2) Andapun perlu tahu juga berapa harga beras biasa dan beras aking itu).
Selamat menjawab soal ya...? Semoga Anda bersyukur masih makan nasi yang pulen, enak dan bergizi, bukan nasi aking atau “sekul laking”.
Email saya: y_saeda@yahoo.com
Tentang Penulis:
Master Student of Freudenthal Institute, Utrecht University, The Netherlands
Jurusan Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Indonesia (dulu namanya IKIP Bandung)
Comments
Nasi Aking for the Great Person;)
“Buktinya Putri punya