Ga ikut polik, ndri?

Pertemuan dengan kakak dan adik-adik saya pada momen pernikahan saya dua pekan silam mengingatkan saya pada banyak hal tentang masa kecil saya. Tidak disangka kakak saya begitu banyak hapal kebiasaan-kebiasaan saya sewaktu kecil — ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya. Masa lalu memang menjadi abadi dalam kenangan. Entah itu manis atau pahit, masa lalu adalah sejarah kita yang membuat kita seperti sekarang. Sekitar tahun 1998 - 1999, saat masih kuliah, saya dan kakak saya baru pindah dari kos-kosan lama di daerah Haur Mekar (belakang tugu perjuangan Jl. Dipati Ukur, depan kampus Unpad) ke Gg. Menara Air (Jl. Tubagus Ismail, Sadang Serang). Orang tua kami membeli sebuah rumah kecil. Turut bergabung bersama kami, Arie Irman, sepupu kami yang sejak kecil sering bersama kami. Salah satu kebiasaan bertiga saat itu adalah olahraga pagi setiap hari Minggu di Sabuga. Pada suatu ketika, sekembali berolahraga kami bertemu dengan Pak Aris, tetangga sebelah rumah, yang berjalan sambil menenteng parang (golok). Dengan senyum ramah, beliau menyapa, "Ga ikut polik, nDri'?" Uda Andri, kakak kami tertua yang disapa, menjawab tak kalah ramahnya, "O iya Pak, segera, kami baru selesai olahraga." Saya dan Arie cuma mengangguk-angguk saja. Sesampai di rumah, Uda langsung misuh-misuh, "Dian, Arie, apa itu polik?" Kami jelas kaget, karena kami sangka Uda sudah tahu apa yang dimaksud Pak Aris. Karena kami juga tidak tahu, maka segera digelar rapat istimewa untuk memecahkan misteri kata polik ini. Bagaimana tidak, kami selaku warga baru harus ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan warga untuk berintegrasi dengan lingkungan baru dan sebagai bentuk nyata pengalaman sila ketiga Pancasila. "Apa mungkin maksudnya kita disuruh ke poliklinik (di ITB)?" ujar Arie. "Ga mungkin, ngapain pagi-pagi ke poliklinik. Kan belum buka," sanggah saya. "Atau maksud Pak Aris mengundang kita minum teh?" kata Uda Andri sambil berpikir keras. Begitulah, setelah lewat sepeminum teh, akhirnya salah seorang dari kami berkata (saya lupa siapa yang bicara, mungkin juga itu adalah saya), "Mungkin mengajak kita gotong-royong? Pak Aris kan tadi bawa parang, lagian beberapa hari yang lalu ada edaran untuk ikut berpartisipasi ronda malam. Ini mungkin bagian dari aktivitas warga..." Uda dan Arie langsung setuju, setelah mengeluarkan beberapa bukti yang kuat, disepakatilah bahwa polik yang dimaksud Pak Aris adalah gotong-royong. Permasalahan berikutnya adalah di manakah warga bergotong-royong? Tapi Uda Andri tidak mau rapat terlalu lama. Dengan jiwa kepempinannya, dia segera berijtihad bahwa gotong-royong besar kemungkinan terjadi di lapangan kompleks. Segera keluar instruksinya, "Dian, ambil cangkul; Arie, ambil koran-koran bekas. Kita harus segera ke lapangan..." Maka berangkatlah kami menuju lapangan kompleks, dengan muka penuh ramah dan lengan baju disinsingkan. Arie menenteng kertas-kertas koran bekas, diniatkan untuk mengelap sebagai pengganti kain lap. Saya menenteng cangkul, diniatkan untuk menyiangi rumput dekat mushala. Sementara Uda Andri siap dengan kemocengnya, diniatkan untuk membersihkan kaca dari debu. Sesampai di lapangan kami melihat keramaian. Ada yang sedang joging, senam, ada yang main bulutangkis, main bola voli... tapi tidak ada yang gotong-royong. Kami mulai curiga, ada yang salah. Penampilan kami mencolok dibandingkan keramaian, bawa cangkul, gulungan kertas koran, dan kemoceng. Kami saling berpandangan dan dengan teratur mundur pelan-pelan tanpa menimbulkan banyak kecurigaan. Begitu sudah melewati belokan dan sepi, kami segera lari menuju rumah. "Ada apa ini, kenapa kok tidak ada yang gotong-royong?" tanya Uda Andri. "Iya ya, kenapa ya?" tanya Arie pula. "Jangan-jangan, polik yang dimaksud Pak Aris tadi itu adalah main bola voli, karena tadi memang ada yang main bola voli," ujarku. "Iya ya, jangan-jangan memang begitu..." kata Uda Andri. Maka berderailah tawa kami. Apalagi mengingat malam sebelumnya Uda Andri melawak di depan kami tentang beda Ep "P"espa dan Ep "P"anta. Hanya saja masih belum terjawab misteri kenapa Pak Aris pagi-pagi bawa parang.

Comments

Hahaha.. ada-ada saja... tapi lucu euy

Hahaha... lucu euy... Ada-ada saja ya cerita begini. Memang, kalau salah mengerti itu terkadang bikin malu. Tapi, bisa terkenang terus-terusan...