Sosial & kehidupan

Artikel tentang sosial masyarakat dan kehidupan.

Sakit Tipus

Sudah dua pekan tidak menulis, bukan karena tidak ada ide atau tidak sempat. Melainkan tidak bisa. Praktis semua aktivitas berhenti. Perhelatan pernikahan Koko Wangsa tanggal 12 Agustus kemarin pun tidak bisa dihadiri — padahal menghadiri undangan pernikahan itu wajib, ada haditsnya lho. Benar, sudah sepekan lebih ini saya terbaring karena divonis menderita tipus (typhoid fever). Orang kata tipus datang karena kecapean di bawah ambang toleransi tubuh. Saya memang keasikan kerja, tapi tidak sampai pada status kecapean sangat. Bermula dari sakit perut, mual-mual sampai muntah pada malam hari (saya perhatikan muntahan saya itu adalah semua makanan yang saya makan sejak pagi, sayang sekali ya), kemudian diikuti panas, sakit kepala, otot-persendian linu, sampai akhirnya nyeri pinggang.

Simpsons di Majalah Nature



Lisa gets so bored by a lack of schooling she builds a perpetual motion machine. Homer is not pleased: "Lisa, in this house we OBEY the law of thermodynamics." Simpson di Majalah Nature edisi 26 Juli 2006, halaman 404 - 405.

Dude, it's over...

Berakhir sudah cerita fantasi sihir Harry Potter. Menakjubkan, Rowling sukses mengubah budaya "menonton" menjadi "membaca" untuk sebagian besar anak-anak di Bumi ini. Buku terakhir sudah terjual jutaan kopi sebelum diluncurkan. Terlepas dari cerita dan fantasinya, internet sangat berandil besar dalam promosinya. Jutaan fan yang memiliki akses internet bercerita sepanjang waktu tentang hal Harry Potter. Atmosfir yang sama saya rasakan (atau mungkin sedikit lebih dewasa) untuk fantasi Tolkien Lord of the Rings.

Banyak kesamaan antara fantasi Tolkien dan Rowling, tapi ada satu perbedaan mendasar yang saya rasakan. Tanpa bermaksud merendahkan Rowling, tapi apa yang dilakukan Tolkien adalah sebuah revolusi fantasi modern, melihat situasi dan kondisi pada saat itu (antara Perang Dunia I dan II), kekompleksitasan cerita, dan kesempurnaan fantasi yang mungkin cuma tertandingi oleh kisah Mahabarata. Namun saya sepakat, tidak pada tempatnya membandingkan dua fantasi ini, nikmati saja bagi yang mau menikmati. #Harry Potter and the Deathly Hollows# Buku ketujuh yang menjadi the ultimate ending sudah selesai saya khatamkan Sabtu sore kemarin. Mau rasanya langsung menuliskan di sini resumenya, tapi saya butuh waktu semalam untuk berpikir karena sudah sering mendapatkan protes dari teman-teman merusak fantasi mereka (spoiller). Sebenarnya memang saya suka sekali merusak fantasi orang, hehe, tapi untuk kali ini saya tidak lakukan secara brutal. PERHATIAN: ARTIKEL BERIKUT BISA JADI ADALAH SPOILER BAGI ANDA!!! ##Tokoh yang mati## Dari situs-situs terkait Harry Potter saya mendapat kesan bahwa isu utama dalam buku terakhir ini adalah siapakah yang mati dan yang selamat? Mungkin karena sebagian pembaca sudah punya tokoh favorit masing-masing dan ingin tahu bagaimana nasib mereka ditentukan oleh Rowling. Saya sendiri juga punya tokoh favorit, tapi saya sudah menentukan nasibnya sendiri tanpa menunggu Rowling (dan tidak mau tahu apa yang dilakukan Rowling terhadap tokoh tersebut heheheh). Berikut ringkasan kematian karakter favorit saya berdasarkan waktu kejadian (yang tidak favorit tidak saya tulis).

You Will Lost Everything

Setelah belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, saya sudah mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan pahit bahwa akan banyak fantasi-fantasi dari buku yang tidak diangkat ke dalam film. Termasuk ketika hendak menonton film Harry Potter 5. Dari dulu saya selalu bermasalah dalam hal transformasi fantasi dari buku ke film. Seperti film Harry Potter sebelumnya, saya lanjutkan tradisi mengulas film ini dari perspektif saya.


Harry Potter and the Order of Phonix. Saat pertama kali buku itu keluar saya langsung mengasosiasikannya dengan The Fellowship of the Ring, sebuah grup sukarelawan yang memiliki misi untuk menyelematkan dunia dari aksi seorang tokoh sakti yang tidak mungkin dikalahkan dalam duel satu lawan satu. Dalam fantasi Tolkien (Lord of The Rings), ada Sauron, si juragan cincin; dalam fantasi Rowling (Harry Potter) ada Tom Marvollo Riddle, si Lord Voldemort. Dua-duanya sama-sama sakti, mungkin bisa diasumsikan sebagai individu tersakti dalam masing-masing fantasi. Karena itu, untuk mengalahkannya harus secara kolektif, bersama-sama, dan jaringan. Maka Elrond, the elf, segera membentuk grup the Fellowship of the Ring untuk menghancurkan the One Ring; sementara Dumbledore membentuk grup Order of Phoenix. Walaupun teknis dan detil berbeda, tapi idenya persis sama. Tapi tidak mengapa, tho saya mengikuti Harry Potter tidak seperti saya menyukai fantasi Tolkien. Bagaimanapun juga saya harus menghargai sejarah saya sendiri bahwa saya lebih dahulu mengenal Harry Potter sebelum Tolkien hehehe. PERHATIAN: ARTIKEL BERIKUT BISA JADI ADALAH SPOILER BAGI ANDA!!!

Ocehan Minggu: Kenapa kita tidak bisa antri

Hari ini lustrum V fakultas MIPA Universitas Airlangga dibuka. Ulang tahun ke-25 ini sendiri sebenarnya tanggal 1 Juli kemarin, tapi seperti biasa karena alasan teknis baru sekarang bisa dirayakan. Ada serangkaian kegiatan yang dilakukan selama sepekan ke depan, salah satunya adalah pemeriksaan kesehatan gratis (jantung, tekanan darah, kadar gula dan kolesterol) bagi civitas academica dan keluarganya. Menarik, saya sangat menghargai usaha-usaha seperti ini. Dari awal saya sudah menduga hasil pemeriksaan tidak memiliki akurasi yang jelas. Meskipun memakai alat-alat elektronik (yang saya tidak tahu kapan dikalibrasinya), namun kondisi pemeriksaan yang kurang nyaman akibat desak-desakan, antrian yang tidak jelas, dan pengkondisian tubuh sebelum pemeriksaan (saya malah begadang semalaman main DotA dan pagi-paginya minum kopi dua gelas). Tapi tetap saja, walaupun tidak diketahui akurasinya pemeriksaan ini bisa dijadikan referensi cepat seberapa sehat tubuh saya (hampir mirip dengan wikipedia.org sebagai referensi cepat saya kalau mau tahu tentang sesuatu).

Juri Publik untuk Sains

Amerika Serikat sedang heboh dalam penangangan arah riset Biologi Sintesis, sebuah sains yang tergolong baru dalam pembuatan gen, komponen sel, dan bahkan pembuatan dari awal sel organisme lengkap. Secara teori, para ilmuwan sudah menemukan resep bagaimana membuat makhluk hidup buatan. Tentu saja hal-hal seperti ini selalu menimbulkan pro dan kontra, tidak hanya di Amerika Serikat tapi juga diseluruh dunia. Untuk menyelesaikan konflik antara para saintis dan pembuat regulator (seperti pemerintah), Pat Mooney dari ETC Group menugusulkan ide: bagaimana kalau publik ikut diundang menjadi juri dalam pemutusan arah perkembangan ilmu pengentahuan? Tahun 2005, bulan Mei, pemerintah Inggris Raya pernah memanggil beberapa orang secara acak untuk enjadi juri dalam penentuan kebijakan riset teknologi nano di Inggris. Sebanyak 25 orang dipanggil dan menghabiskan lima pekan untuk mempelajari riset teknologi nano di Inggris, berdialog dan berdiskusi dengan para pelaku riset, dan akhirnya menjadi konsultan pemerinah untuk membuat kebijakan pemerintah Inggris untuk bidang tersebut.

Antara peran mentor dan orangtua

Jurnal ilmiah "Nature" tidak saja terkenal karena kualitas artikel penelitiannya yang amat tinggi namun juga karena materi "kolom karir"-nya yang menarik dan terasa mengena. Di edisi Kamis 14 Juni 2007, "kolom karir" tersebut mengangkat isu mengenai peran mentor dalam perkembangan karir [1]. Saya kutip kalimat yang ditampilkan sebagai sub-judul kali itu, "Memiliki seorang mentor yang baik pada awal karir dapat sangat mempengaruhi kesuksesan anda, dalam bidang apapun."

Menyempurnakan perbuatan baik

Menulis dan publikasikanlah! Saya tidak ingat di mana saya pernah baca seruan ini. Tentu saja mempublikasikan tulisan sendiri tidak selalu identik dengan ria atau sombong — walau hati orang siapa yang tahu. Tulisan dan publikasi insyaallah selalu bermanfaat, asal bukan diari saja: Menulis diari tidak perlu dipublikasikan, mempublikasikan diari juga bukan sesuatu yang pantas rasanya. Saya hendak bercerita tentang kejadian yang menimpa saya hari Sabtu 28 April yang lalu. Karena suatu dan lain hal, saat mengendari sepeda di sore hari jaket saya tercecer di jalan. Di dalam saku jaket itu ada dompet saya. Saya baru menyadarinya selepas maghrib, sekitar dua jam setelah saya sampai di kamar kos. Satu jam lagi kereta yang saya tumpangi hendak berangkat dari Stasiun Turi, Surabaya, menuju Stasiun Gambir, Jakarta. Keberangkatan hari Jumat malam itu memang sudah saya rencanakan bersama Ira.

Mengangkat sebelah kaki saat mengajar

Beberapa hari yang lalu saya diprotes seorang praktikan fisika dasar karena saya dianggap kurang begitu sopan. Alasannya, saya beberapa kali kalau sedang mengajar suka menaikkan sebelah kaki ke kursi (bukan ke meja). Wah, ini menjadi menarik bagi saya yang memang secara kultural bagi saya itu masih dalam batas kesopanan. Sejak tahun 1996 saya merantau dari ranah Minang, tanah kelahiran saya. Walau tidak mengklaim banyak, tapi saya bisa katakan sudah merasakan beberapa ragam budaya dan adat. Masing-masing berbeda, unik, dan tentu saja memiliki nilai dan norma. Sebagai seorang muslim, tentu saja saya berpegang pada pepatah dari ranah kelahiran saya, "adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah" — adat berdasarkan kebiasaan, kebiasaan berdasarkan Al-quran. Adat basandi sarak mungkin memang sudah dipakai oleh semua peradaban di Bumi ini. Tapi yang kedua, sarak basandi kitabullah, diperkenalkan semenjak syariat Islam didakwahkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Jadi bagi saya adat adalah acuan ketiga setelah kebiasaan, sedangkan kebiasaan adalah acuan kedua setelah syariat.

Emosi karena teman telat datang? Tunggu dulu!

Pernah buat janji dengan rekan tapi kemudian rekan-janjiannya telat? Atau kita yang mengajak berjanji telat datang? Telat lima-sepuluh menit mungkin masih bisa ditolerir, tapi kalau sampai setengah bahkan sampai satu jam? Wah, pasti kesal. Saya cukup sering (karena memang tidak selalu) mengalaminya. Awalnya bisa ditolerir, lama-lama mulai memancing ketidakstabilan emosi. Tapi akhirnya saya sadari, khusus untuk teman saya yang satu ini, bahwa keterpancintan ini (apa lagi sampai emosi, kesal, atau marah) adalah melawan sunnatullah. Wah wah wah, masalah serius ya? Benar. Bagaimana tidak keterlaluan kalau emosi saya terpancing sementara saya belajar dan mengajarkan fisika relativitas Einstein? Berdasarkan prinsip relativitas umum Einstein, benda bermassa akan menciptakan medan gravitasi dan medan ini mempengaruhi dimensi ruang-waktu di sekitarnya. Medan ini akan memendekkan dimensi ruang dan memanjangkan dimensi waktu. Semakin massif benda tersebut, semakin kuat medan gravitasi yang dihasilkan, maka semakin memendek dimensi ruang dan semakin memanjang dimensi waktu.
Syndicate content