Tugas Akhir, Tugas Tanpa Akhir?

Unair menyebutnya skripsi, tapi saya ingat dulu di ITB namanya Tugas Akhir. Saya lebih suka nama Tugas Akhir karena tegas mengindikasikan ini adalah tugas yang harus berakhir, bukan tugas yang tanpa akhir, haha.

Skripsi, n karangan ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akhir pendidikan akademisnya: ia menyusun — selama hampir lima bulan.

KBBI Daring

Saya suka definisi skripsi oleh KBBI. Skripsi itu sebuah karangan ilmiah. Laporan penelitian hanya contoh dari karangan ilmiah. Dalam diagram Venn, skripsi itu di lingkaran terbesar dan laporan penelitian adalah himpunan bagiannya.

Berarti, bolehkah karangan ilmiah bukan berbentuk laporan penelitian? Tentu boleh. Hasil telaah pekerjaan orang lain, atau lebih keren disebut article review, juga termasuk karangan ilmiah.

Ada yang lain? Mungkin, tetapi saya belum dapat memberi contoh saat ini. Jika Anda punya ide, sila tulis di kolom komentar.

Apa boleh semua jenis karangan ilmiah jadi skripsi? Tentu tidak.

Secara linguistik saja, yaitu definisi yang diberikan oleh KBBI, ada rambu-rambu sebuah karangan ilmiah dapat diklaim sebagai sebuah skripsi.

Apa rambu-rambu itu? Yaitu memenuhi syarat-syarat yang diajukan oleh institusinya. Syarat itu ada di dalam kurikulum masing-masing prodi.

Masih merujuk arti linguistik, skripsi harus menjadi gerbang akhir dari proses pendidikan. Saya patuh dengan definisi ini, oleh sebab itu saya tidak setuju menggunakan kata skripsi untuk lingkungan saya di Jurusan Fisika Unair.

Kenapa? Karena meminta mahasiswa menyelesaikan semua mata kuliah baru dapat mengerjakan skripsi.

Tentu ini ideal, tetapi tidak begitu yang terjadi di tempat kami. Di sini, mahasiswa dapat mengambil mata kuliah skripsi berbarengan dengan mata kuliah wajib lainnya.

Artinya, yang sesungguhnya kami lakukan adalah tugas akhir, bukan skripsi sebagaimana dideskripsikan oleh KBBI.

Tugas Akhir, bukan tugas paling akhir, tapi tugas yang harus berakhir.

Kapan berakhirnya? Ketika dalam satu semester yang sama dengan dia memulai bekerja. Jika dia mulai tugas akhir pada awal semester genap, dia akhiri tugas itu di akhir semester genap pada tahun ajaran yang sama.

Kalau belum selesai, bagaimana? Tidak mungkin tidak selesai. Pasti selesai, karena definisi selesai dari sebuah tugas akhir adalah waktu habis. Seperti main sepak bola, bukan seperti main badminton.

Pemenang badminton adalah mereka yang pertama mendapat poin tertentu. Tidak peduli berapa lama harus main, permainan baru berhenti setelah salah satu pemain mencapai poin tsb.

Sedangkan tim pemenang sepak bola ditentukan setelah pluit panjang berbunyi. Yang menang adalah tim yang mencetak gol lebih banyak. Tetapi, gol dicetak selama pertandingan. Bukan setelah pertandingan selesai, lalu pelatih dan wasit bersama-sama mengevaluasi para pemain. Bukan!

Pelatih dan wasit mengevaluasi para pemain selama pertandingan. Pelatih dapat mengganti pemain, mengubah strategi, menasihati dll. Sedangkan wasit dapat memperingati, menghukum, dll.

Begitu juga dengan tugas akhir. Evaluasi dilakukan sepanjang pengerjaan, bukan di ujung. Bahasa kerennya, tugas akhir itu process oriented, bukan result oriented.

Process oriented benar-benar prinsip sejati sebuah pendidikan.

Itu sebabnya dosen pembimbing harus mampu menjamin proyek tugas akhir yang dikerjakan mahasiswa bimbingannya memang dapat dikerjakan dalam satu semester.

Itu sebabnya dosen pembimbing jangan memberikan proyek tugas akhir yang menjadi bagian dari riset dia dan baru meluluskan mahasiswa setelah dia mendapatkan data yang dia inginkan.

Pernyataan terkahir ini punya tiga masalah. Pertama, mahasiswa S-1 tidak untuk meriset. Kedua, proyek seperti inilah yang akhirnya membuat skripsi menjadi tugas tanpa akhir.

Dan masalah yang ketiga adalah yang meluluskan itu bukan dosen pembimbing, tetapi pengampu mata kuliah skripsi. Di tempat kami, Jurusan Fisika Unair, pengampu mata kuliah skripsi adalah ketua jurusan.

Bagaimana saya merancang tugas akhir mahasiswa S-1?

Saya punya dua resep. Pertama, sumber utama masalah berasal dari buku teks kuliah wajib.

Misalnya hidrolisis ester dalam dua pH berbeda, asam dan basa, seperti yang diilustrasikan pada gambar artikel ini.

Sumber masalah proyek ini berasal dari buku teks mata kuliah Fisika Kuantum kami, Introduction to Quantum Mechanics, edisi kedua, karya David J. Griffiths, Problem 6.39.

Soal ini mengisahkan tentang perturbasi yang dialami oleh sebuah atom dalam kristal karena kehadiran muatan-muatan titik di sekitarnya. Mirip efek Stark pada kasus atom dalam muatan listrik. Akibat perturbasi muatan itu, level energi sang atom mengalami perubahan.

Berdasarkan problem ini, saya ganti sebuah atom dalam kristal menjadi sebuah molekul. Sedangkan muatan-muatan sumber perturbasi menjadi larutan asam atau basa. Sekarang, kondisi sudah mirip dengan reaksi kimia dalam lingkungan pH rendah/tinggi, seperti pada ilustrasi gambar tsb.

Saya punya nomenklatur untuk proyek tugas akhir yang saya rancang. Untuk proyek dalam gambar ini, kodenya adalah b33 dan b34.

Resep kedua adalah mahasiswa tidak boleh sendirian. Bukan berarti satu tugas akhir dikerjakan oleh dua orang, tapi satu masalah dapat melahirkan setidak-tidaknya dua proyek tugas akhir. Seperti pada contoh tadi, satu mahasiswa mengerjakan reaksi dalam larutan asam, dan yang lain dalam larutan basa.

Contoh rancangan tugas akhir lain yang saya buat dapat diakses di sini. Belum semua saya unggah, karena saya baru pekan lalu menemukan plugin untuk keperluan ini.

Sebagai penutup, berikut dua artikel saya tentang tugas akhir yang pernah saya tulis sebelumnya.

  1. Tentang Skripsi di FST
  2. Tentang Skripsi di Prodi Fisika

By febdian RUSYDI

a muslim, a teacher, a physicists, a blogger.

Pikiran Anda?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Don`t copy text!
%d bloggers like this: