Verba dan Rasa Kalimat

Saya belum menjawab pertanyaan utama dalam artikel sebelumnya. “Saya yakin argumen saya tidak salah. Jika dijadikan algoritma, sudah pasti komputer dapat memahaminya. Lalu, kenapa patah juga?”

Agaknya tidak ada yang sadar, ha ha ha.

Lalu, kenapa argumen saya tetap patah? Karena saya tidak menggunakan kalimat efektif saat mempresentasi ide. Kenapa tidak efektif? Karena banyak kata-kata saya yang sia-sia dan bahkan menyesatkan.

Dr. Doumont mengarahkan kita untuk peduli pada pilihan kata kerja (verba) dan mekanik penulisan. Dua poin ini, menurut pemahaman saya, adalah usaha kita untuk menghindari kata-kata yang sia-sia dan menyesatkan.

(Baca: Effective Writing.)

Bahasa itu punya tatabahasa dan rasa. Yang pertama tentang aturan, sintaks, seperti kode program atau aturan operasi matematika. Yang kedua tentang konteks, audien, lawan bicara. Dan, rasa kalimat sains itu hambar. “To inform, not to impress,” kata Dr. Doumont.

Tetapi ingat, meski rasa hambar, tulisan ilmiah tetap harus patuh pada tatabahasa.

Tatabahasa melahirkan kalimat yang benar. Rasa kalimat melahirkan kalimat yang baik. Tatabahasa dulu, baru rasa. Benar dulu, baru menjadi baik, karena kebaikan tidak akan lahir dari sesuatu yang tidak benar.

Kebaikan hanya lahir dari kebenaran.

Febdian Rusydi

Jangan sembunyikan verba

Tatabahasa dan rasa bahasa dikendalikan oleh verba. Verba mendeskripsikan aksi, keadaan, atau kejadian. Munculkan verba, jangan sembunyikan dalam kata benda. Perhatikan verba increase dalam dua contoh berikut ini.

(1) The catalyst produced a significant increase in conversion rate.
(2) The catalyst increased the conversion rate significantly.

Kalimat (1): increase tersembunyi dalam kata benda, “a significant increase.”

Kalimat (2): increase muncul sebagai verba.

Aturan fundamental tatabahasa adalah satu kalimat hanya boleh memiliki satu verba. Kedua kalimat sudah memenuhi aturan ini. Tetapi, (1) memiliki verba kedua yang tersembunyi dalam kata benda. Itu sebabnya kita sebaiknya menggunakan (2).

Saran yang sama juga sahih untuk bahasa Indonesia.

Kalimat (1): Katalis menghasilkan sebuah kenaikan laju konversi yang signifikan.

Kalimat (2): Katalis menaikkan laju konversi secara signifikan.

Can you sense it?

Kalimat lampau, sekarang, dan nanti

Verba dalam bahasa Inggris berubah bentuk dalam kalimat masa lampau, sekarang, dan nanti. Perubahan ini tidak terjadi dalam bahasa Indonesia.

Kapan kita pakai mereka? Pedoman umumnya adalah sebagai berikut.

Past tense: pekerjaan yang telah selesai, yang dilaporkan, atau hasil observasi.

Present tense: kebenaran umum dan fakta yang tidak bergantung waktu.

Future tense: perspektif.

Contoh? Sila buka artikel aslinya.

(Ingat, blog ini adalah catatan pinggir saya. Saya tentu mengharapkan pembaca menjadikan tulisan ini sebagai bantuan awal untuk memahami rujukan utama.}

Kalimat aktif vs. kalimat pasif

Nah, ini yang seru. Menjadi perdebatan panjang. Mana yang lebih pantas/baik/benar kita pakai dalam laporan ilmiah: kalimat aktif atau pasif?

Dr. Doumont menilai kedua jenis kalimat dapat digunakan, dikombinasikan, asal kita tahu konsekuensi masing-masing jenis kalimat. Perhatikan dua contoh berikut ini.

(3) The preprocessor sorts the two arrays.
(4) The two arrays are sorted by the preprocessor.

Lagi-lagi secara tatabahasa keduanya benar. Tetapi, lakon kedua kalimat berbeda. Lakon kalimat (1) (3) adalah the preprocessor, sedangkan (2) (4) adalah the two arrays.

Jika kalimat ini menjadi ide utama sebuah paragraf, kita harus memilih (3) atau (4). Jika paragraf tersebut bicara tentang the preprocessor, tentu kita pakai (4).

Kalimat pasif memiliki satu keunggulan: kita tidak perlu tahu siapa pelakunya. Kita fokus pada apa yang terjadi. Sehingga, kalimat pasif memberi kesan kalimat yang objektif.

Tetapi, lanjut Dr. Doumont, kalimat pasif sama sekali tidak optimal untuk dua alasan.

Pertama, susah dibaca sehingga membuat pembaca bosan. Bandingkan dua contoh berikut.

(5) The temperature was measured …
(6) The measured temperature of 253 degree C suggests a secondary reaction in …

Lakon dalam kedua contoh sama, yaitu temperatur. Tetapi, (6) lebih jelas daripada (5).

Contoh lain, perhatikan dua kalimat berikut.

(7) In this section, a discussion of the influence of the recirculating-water temperature on the conversion rate of …
(8) This section discusses the influence of the recirculating-water temperature on the conversion rate of …

Do you get it?

Kedua, memancing ambiguitas. Perhatikan dua contoh berikut ini.

(9) The temperature is believed to be the cause for …
(10) Keustermans et al. (1997) believe the temperature to be …

Kalimat (9) jelas ambigu. Siapa yang percaya temperaturlah yang menjadi penyebab? Kalimat (9) ini juga contoh bahwa kalimat pasif tidak selamanya objektif.

Keren, ya?

Sebelum bertemu artikel Dr. Doumont ini, saya menggunakan referensi dari situs ini.

By febdian RUSYDI

a muslim, a teacher, a physicists, a blogger.

5 comments

Pikiran Anda?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Don`t copy text!
%d bloggers like this: