Mekanik Penulisan

Saya baru kenal istilah mekanik penulisan ini dari tulisan Dr. Doumont. Beliau menyebutnya sebagai text’s mechanics. Setelah saya baca, saya pahami mekanik penulisan ini adalah ketrampilan kita menggunakan aturan-aturan penulisan seperti singkatan, angka, huruf kapital, dan tanda baca. Semacam PUEBI dalam bahasa Indonesia.

Tujuan mekanik penulisan adalah untuk menyederhanakan tulisan. Singkatan, misalnya, membuat jumlah kata berkurang. Jumlah kata berkurang, tentu durasi waktu membaca juga berkurang. Siapa yang tidak senang?

Intonasi

Mekanik penulisan juga memberi intonasi bacaan. Penggunaan tanda baca, huruf miring sebagai penegasan, dan penggunaan daftar (itemize) dalam kalimat membuat kita membaca dengan berirama. Masih ingat pelajaran SD, kalau kita harus membaca dengan bersuara? Itu supaya kita membaca dengan intonasi yang benar. Jika sudah terlatih, membaca dalam hati pun berintonasi.

Membaca dalam hati memang kaya imajinasi intonasi. Cobalah dendangkan “balonku ada lima.” Ganti ke lagu “ibu kita Kartini.” Sekarang, baca kalimat ini dengan suara berat dan terpatah-patah. Terakhir, tertawalah, hi hi hi, dengan suara kuntilanak.

Heran, ya. Kita bisa lakukan semua intonasi dalam hati. Otak kita menyimpan banyak memori intonasi, baik yang kita dengar atau pun yang kita ucapkan sendiri.

Jika kita tidak membaca dengan intonasi, kalimat itu tidak terekam di otak. Bukankah sering kita alami membaca buku teks hanya mengantarkan kita pada bantal?

Apakah Anda tahu, latihan terbaik membaca dengan intonasi? Betul, membaca Al-quran.

Al-quran artinya recitation, atau bacaan yang harus dibaca berulang dengan suara yang terdengar oleh telinga kita. Ada tajwid yang harus dipatuhi. Melatih mematuhi tajwid membuat mulut kita mengeluarkan kata-kata secara jernih dan jelas. Akibatnya kita bicara berintonasi.

Singkatan

Kembali ke mekanik penulisan. Bersama pemilihan verba, mekanik penulisan membantu kita menulis secara efektif. Ingat, kalimat efektif adalah kalimat yang disusun oleh kata-kata yang tidak mubazir, pun tidak menyesatkan.

Meskipun demikian, kita dapat keliru menggunakan mekanik penulisan. Maksud hati menyingkat, eh malah membingungkan. Misalnya kita membuat narasi. Kita pakai sebuah singkatan yang tidak pernah kita jelaskan sebelumnya. Pembaca pasti bingung.

(1) Kita dapat modelkan reaksi tsb. dalam sebuah ELD. Perbedaan energi produk dan reaktan dalam ELD memberikan nilai energi reaksi. Sedangkan perbedaan energi kompleks teraktivasi dan reaktan memberikan nilai energi aktivasi.

Contoh (1) membuat kita bertanya, apa itu ELD?

Atau sebaliknya. Kita perkenalkan sebuah singkatan yang tidak pernah kita pakai lagi.

(2) Kita dapat modelkan reaksi tsb. dalam sebuah energy level diagram (ELD). Reaksi tersebut diwakilkan oleh keadaan dasar dan keadaan transisi. Keadaan dasar dimiliki oleh reaktan, produk intermediasi, dan produk akhir. Sedangkan keadaan transisi dimiliki oleh kompleks teraktivasi.

Untuk apa kita perkenalkan singkatan ELD jika tidak kita pakai pada kalimat selanjutnya?

Tentu saja ada singkatan yang umum, yang semua orang berpendidikan tahu, sehingga tidak perlu dijelaskan. Misalnya kg. Atau, dalam bidang ilmu tertentu ada singkatan yang juga sudah umum yang pasti dimengerti oleh ilmuwan di bidang itu. Misalnya, misalnya DFT dalam bidang ilmu komputasi kuantum.

Angka

Bagaimana dengan penggunaan angka? Aturan umumnya adalah kalau angka tersebut cuma satu digit, tulis dalam alfabet: Nol, satu, dua, tiga, s.d. sembilan. Jika lebih dari satu digit, tulis dalam angka.

Pernahkah Anda kesulitan membedakan 0 dan O? Kami pernah, saat menyelenggarakan lokakarya penggunaan piranti Quantum Espresso. Seorang peserta dari Malaysia menghadapi kesulitan saat memanggil file input yang dia buat. Butuh setengah jam, bahkan lebih, bagi panitia menyadari bahwa si peserta menulis input H20, bukan H2O sebagaimana seharusnya.

Tetapi, aturan umum ini tentu ada pengecualian. Misalnya, angka 10 harus ditulis “sepuluh” jika berada di awal kalimat. Atau, dalam penyebutan nama gambar dan tabel kita tulis “Figure 3” dan “Tabel 9.” Atau, dalam penulisan tanggal dan jam, “1 Zulhijah, pukul 2 sore.” Begitu juga dalam penulisan angka-angka dalam seri: “3, 7, dan 24 orang ilmuwan”.

Kapital

Bagian ini tidak susah. Semua kita tahu kapan harus menggunakan huruf kapital, kapan tidak. Untuk perkara ini, aturan dalam bahasa Inggris sama dengan aturan dalam bahasa Indonesia.

Meskipun mudah, “jangan berlebihan,” nasihat Dr. Doumont. Contoh berlebihan adalah menulis nama konsep dengan awal kapital. Misalnya, Density Functional Theory, padahal cukup tulis density functional theory.

Tanda hubung

Dalam bahasa Inggris disebut hypens. Simbolnya “-,” seperti minus, tapi lebih panjang. Fungsinya membuat dua kata menjadi satu.

Kata “low temperature” dan “low-temperature” dipakai dalam dua konteks berbeda. Perhatikan contoh berikut ini.

(4) Low temperature impact …
(5) Low-temperature impact …

Kalimat (4) bermakna dampak rendah dari temperatur. Sebaliknya (5) bermakna dampak dari temperatur rendah.

Tetapi, multi + channel = multichannel, bukan multi-channel. Begitu juga dengan nonliner, preamplifier, postdoctoral dan realign.

Kenapa? Karena multi, non, pre, post, dan re adalah prefiks, bukan kata.

Ingat, tanda hubung adalah menggabungka dua kata. Dua kata ini secara terpisah memiliki arti, bukan prefiks.

Apa pula itu prefiks? Ha ha ha… Lain kali, ya, insyaallah.

Dalam bahasa Indonesia, ada pula tanda hubung dengan fungsi serupa. Bahkan, kita juga punya tanda pisah. Simbolnya juga sama-sama “–” tetapi lebih panjang daripada tanda hubung.

Tanda baca koma

Sepertinya tanda baca inilah yang paling sering memberi kita masalah. Dr. Doumont menasihati kita tiga aturan penggunaan koma.

Pertama, untuk memisahkan subjek induk kalimat dengan apapun yang ada di depannya.

(6) Surprisingly, the temperature did not increase.

Meskipun tidak dibutuhkan dalam (6), tetapi tanda koma membantu pembaca menentukan intonasi yang benar.

Kedua, untuk memisahkan item lebih dari dua.

(7) The colors are red, white, and blue.

Jika kurang dari dua, gunakan “and.”

(8) The colors are red and white.

Ketika, saat kita tulis (7) dalam bentuk daftar (itemize).

(9) The colors are

  • red,
  • white,
  • blue.

Bentuk (9) tidak butuh “and” antara “white” dan “blue” seperti pada (7).

Alhamdulillah.

By febdian RUSYDI

a muslim, a teacher, a physicists, a blogger.

1 comment

Pikiran Anda?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Don`t copy text!
%d bloggers like this: