Konteks dan Respek

Konteks punya dua komponen. Begitulah pemahaman saya dari Unit 1: Communicating as a Scientist, dari seri tulisan Dr. Jean-luc Doumont yang sedang kita bahas.

Sebelum membahas komponen kedua, kita tuntaskan dulu materi dari Unit 1 tsb.

Unit 1 fokus pada komponen pertama. Komponen pertama ini melibatkan emosi pendengar/pembaca. Kebanyakan pendengar/pembaca tidak ingin terlihat bodoh, atau dituduh bodoh. Sekali mereka tersinggung, mereka akan mudah menolak pesan kita. Dan, ingatan mereka sangat lama tentang hal ini ketimbang tentang pesan yang kita sampaikan.

Konteks Butuh Respek

Sebagai pendengar, kita pernah alami hal ini. Seorang pembicara, bisa jadi seorang ustaz, yang kita ingat justru caranya berceramah yang tidak sopan, ketimbang isi ceramahnya sendiri.

Pendengar/pembaca adalah bagian dari konteks. Keefektifan teks (pesan) kita ditentukan oleh respek kita kepada mereka. Jika mereka respek, mereka bersedia memberikan waktu dan usaha ekstra untuk memahami teks kita.

Tetapi jika sebaliknya… Wallahualam apa yang akan kita alami. Kita sudah sangat bersyukur jika mereka diam saja, tetap duduk di tempat, tidak keluar apa lagi sambil menendang pintu. Jder!

Mereka diam, setelah terhina oleh ucapan kita, karena mereka masih memberikan kesopanannya kepada kita.

Konteks membutuhkan respek. Tanpa respek, tidak akan pernah ada konteks. Respek ada dalam cara kita berkomunikasi, bukan isi komunikasi.

Bisakah kita berkomunikasi dengan cara yang sangat, teramat sopan, tapi isi pesan kita dusta? Bisa, tetapi jelas kita tidak respek kepada lawan bicara. Sejak kapan membohongi orang adalah bentuk respek?

Namun, dalam komunikasi ilmiah kita tidak mungkin menyampaikan isi pesan bohong. Pesan dalam komunikasi ilmiah ada dua: fakta ilmiah dan opini. Fakta ilmiah takmungkin berdusta.

Jika pengukuran menghasilkan angka 60 kg, kita laporkan 60 kg berikut erornya. Jika kalkulasi entalpi reaksi dengan dft menghasilkan angka -10 kkal/mol, berarti reaksi tersebut eksotermis. Takmungkin fakta ilmiah berbohong, kecuali kita manipulasi. Kalau sudah manipulasi, namanya bukan lagi fakta ilmiah.

Sementara opini kita bisa jadi salah. Wajar. Kita bangun opini berdasarkan fakta ilmiah dan pengetahuan kita terkait fakta tersebut. Pengetahuan kita terbatas, bahkan mungkin juga keliru. Tetapi, opini salah bukanlah sebuah kekurangajaran.

Respek Tertinggi dalam Komunikasi

Apa ada respek rertinggi dalam komunikasi? Ada. Jika tercapai, itulah yang dimaksud dalam surat Al-ahzab ayat 70.

Tingatan tertinggi komunikasi dengan respek adalah sadiidan,

?????????

(Lihat gambar pada awal artikel.)

Asal katanya sin dal dal, ? ? ?. Artinya dua: pembatas dan pantas. Bukankah sesuatu menjadi pantas kalau ada pembatas?

Bahasa Arab memang keren, satu kata bisa punya banyak makna tetapi semua makna masih punya benang merah. Itu salah satu hikmah kenapa Al-quran berbahasa Arab, sehingga kalimat-kalimanya efektif sempurna.

Apa dampak ketika kita bicara secara sadiidan? Ayat berikutnya menjelaskan: Allah subhanahu wa taala memperbaiki amalan-amalan kita yang jauh dari sempurna. Tidak hanya itu, Allah juga hapus dosa-dosa kita.

Bayangkan, salat kita yang tidak khusyuk, puasa kita yang cuma menahan lapar dan haus, infak kita yang bercampur ria dan ragu-ragu… semua kecacatan itu harusnya menggugurkan amal kita. Tetapi, Allah perbaiki dan sempurnakan. Bonus: Allah ampuni dosa-dosa kita.

Kita dapat pahala penuh plus dosa dihapus. Itu semua karena kita berkomunikasi dengan respek! Masyaallah.

“Karena Anda ingin lawan bicara mengerti apa yang Anda sampaikan, Anda harus terbiasa menulis dan bicara dengan cara yang sederhana dan lugas.” Begitu kata Dr. Doumon dalam paragraf penutup Unit 1.1 ini.

Kesederhanan dan kelugasan menghindari penjelasan yang bertele-tele. Inilah cara berkomunikasi ilmiah yang respek, menghormati lawan bicara.

Mari kita saling menghormati dengan tutur-kata yang sadiidan.

By febdian RUSYDI

a muslim, a teacher, a physicists, a blogger.

1 comment

Leave a Reply to febdian RUSYDI Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Don`t copy text!
%d bloggers like this: