Konteks dan Cerek

Dua artikel tentang konteks sebelum ini (artikel 4 dan artikel 5) menekankan satu poin: pendengar. Karena komunikasi ilmiah butuh pendengar, kita harus mempertimbangkan siapa pendengar kita dalam penyusunan kalimat. Pertimbangan utama, dan mungkin cuma satu-satunya pertimbangan, adalah respek, atau menghormati pendengar. Pertimbangan ini persis yang diajarkan Al-quran kepada kita lewat kata sadiidan.

Kali ini kita bicara sebuah kasus spesifik tentang pendengar: presentasi TA mahasiswa. Presenter adalah mahasiswa, pendengar adalah dua sampai empat penguji.

Kasus ini menjadi ideal jika memenuhi dua kondisi berikut ini.

  1. Mahasiswa menjadi satu-satunya orang yang mengerti topik pembicaraan.
  2. Para penguji memiliki latar belakang bidang beragam, atau heterogen.

Persepsi Amatir Presentasi Tugas Akhir

Keadaan ideal adalah keadaan terbaik yang memungkinkan komunikasi ilmiah berjalan efektif. Dua kondisi tadi membuat komunikasi ilmiah seperti memindahkan air dari ceret penuh ke gelas kosong. Cerek mengalirkan air dengan debit tinggi, gelas menampung air dengan kapasitas maksimum. Satu kondisi tidak terpenuhi, efektifitas perpindahan air berkurang.

Kenapa kondisi 1 ideal? Karena secara akal sehat yang paling tahu banyak tentang TA adalah yang mengerjakannya. Dia yang mengalami susah-payah, gagal-coba, dan akhirnya secara utuh mengetahui seluk beluk pekerjaan.

Kenapa kondisi 2 ideal? Karena semakin homogen pendengar, semakin memungkinkan terjadi pengetahuan presenter dan pendengar setara, atau bahkan pendengar lebih tahu daripada presenter.

Lho, bukankah sidang TA itu sebuah ujian? Penguji (pendengar, dosen) harus lebih tahu daripada yang diuji (prenseter, mahasiswa) dong?

Ya, inilah perspesi amatir presentasi tugas akhir.

Tugas Akhir vs. Riset

Yang diuji pada sidang TA adalah kesesuaian pekerjaan dengan metode ilmiah. Apakah presenter sudah melakukan segala sesuatu berbasis metode ilmiah.

Sasaran pengujian adalah masalah yang diangkat, metode riset, dan logika penarikan kesimpulan. Tiga sasaran itu adalah pondasi metode ilmiah.

Sidang TA tidak untuk menguji apakah pekerjaan presenter laku di pasar, atau dapat dipakai diindustri, atau relevan dengan kebutuhan terkini. Tidak.

Itu semua adalah manfaat riset.

Jadi, tidak apa-apa sebuah TA tidak bermanfaat?

Satu-satunya manfaat tugas akhir adalah mahasiswa S-1 bisa segera wisuda. Selama pengerjaan tugas akhir mahasiswa mendapat tambahan ilmu dan ketrampilan, bagus. Jika tidak bertambah, tidak apa-apa.

Ingat: tugas akhir adalah tugas yang harus berakhir dalam satu semester.

Bagaimana dengan kompetensi yang harus dicapai? Betul, mahasiswa harus memiliki kompetensi mata kuliah TA sebagai syarat lulus. Jika belum tercapai, belum dapat lulus.

Tetapi, kompetensi itu bukan manfaat. Kompetensi itu capaian pembelajaran (learning outcome) yang menjadi bagian dari kurikulum.

Dan kompetensi TA adalah mahasiswa mampu mengamalkan metode ilmiah untuk mempelajari sebuah masalah. Titik.

Presentasi TA

Apapun topik TA, seorang mahasiswa harus berkomunikasi ilmiah dengan para penguji. Ingat, komunikasi ilmiah memiliki dua pesan, fakta ilmiah dan opini. Opini dibangun berdasarkan fakta ilmiah. Manipulasi fakta haram, kesalahan opini halal.

Komunikasi ilmiah ini dilakukan dalam bentuk presentasi. Presentasi punya dua sesi. Sesi pertama adalah pemaparan pengerjaan dan hasil tugas akhir. Sesi kedua adalah dialog.

Pada sesi pertama, presentasi berceramah. Dia harus mampu meletakkan ucapan dan visualisasi ucapannya (slide presentasi) sesuai dengan konteks.

Konteks, atau context dalam bahasa Inggris, berasal dari bahasa Latin contextere. Secara literal, con– adalah bersama, dan textere adalah merajut benang menjadi kain. (Teksil dan tekstur berasal dari kata yang sama, textere.) Secara linguistik, konteks adalah apa-apa yang menyertai teks.

Apa saja yang menyertai teks? Cuma ada dua, yaitu (1) alasan kenapa teks hadir dan (2) pendengar teks.

Lho, di mana kita sebagai pembicara? Kita adalah pelukis, yang menghadirkan gunung yang besar ke dinding ruang tamu mungil pendengar dalam bentuk lukisan.

Kita, pembicara, bukan bagian dari konteks. Kita berkomunikasi ilmiah tidak pernah bercerita tentang diri kita. Kita tidak akan mungkin glorifikasi diri sendiri jika berkomunikasi secara ilmiah.

Komunikasi ilmiah tidak hanya mengatarkan kita pada perkataan yang sadiidan, tetapi menghindari kita dari sombong.

Ingat kisah dua sahabat pemilik kebun dalam surat Al Kahfi? Yang kaya selalu berkata “ini karena saya, itu karena saya…” Sedangkan yang tidak kaya mengatakan “bukan, itu karena Allah.”

Atau kisah Qarun dalam surat Al Qasas yang mengatakan “kekayaanku datang karena ilmuku.”

Itulah salah satu hikmah Allah subhanallahu wa taala, dalam surat Yusuf, menyuruh Rasulullah sallallahu alaihi wassallam mengundang kita menyembah Allah dengan ilmu (bashiirah, atau insight).

Jika kita berkomunikasi secara ilmiah, tidak akan mungkin kita mengglorifikasi diri sendiri. Komunikasi ilmiah mencegah kita sombong.

Itu sebabnya dalam komunikasi ilmiah, kita menggunakan “kami” sebagai pelaku. Karena tidak akan pernah mungkin sebuah riset dikerjakan sendiri, meskipun kita mengira kita sendiri yang mengerjakan.

Sudah tahu sekarang apa komponen kedua konteks? He he he

Sebelum kita akhir sesi ini, mari kita daftar apa saja yang sudah muncul tetapi belum dibahas.

  • Efektif vs. efisien
  • Prefiks
  • Komponen kedua konteks
  • Cara presentasi dalam komunikasi ilmiah
  • Cara dialog (tanya-jawab) dalam komunikasi ilmiah
  • Kisah dua sahabat pemilik kebun, kisah Qarun, dan ilmu apa yang termasuk bashiirah. Suratnya sudah tahu, tetapi ayatnya?
  • … (ada lagikah?)

By febdian RUSYDI

a muslim, a teacher, a physicists, a blogger.

Pikiran Anda?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Don`t copy text!
%d bloggers like this: