Menulis Kalimat Efektif

Saya belajar menulis kalimat efektif sejak SD. Satu kalimat harus dan hanya memiliki satu kata kerja. Hindari kalimat bertingkat. Boleh saltik (tipo), tapi tidak boleh salah tanda baca. Begitu kira-kira pelajaran menulis dari SD sampai SMA.

Tetapi, saya baru menyadari betapa pentingnya kalimat efektif dalam tulisan dan ucapan pada 1435 (2014 tahun matahari). Tahun itu adalah tahun keempat masa studi S-3 saya. Ketika itu saya masih berjibaku untuk merangkum apa-apa yang telah saya kerjakan, apa-apa yang telah saya publikasikan, dan apa-apa yang tidak jadi saya kerjakan namun dapat dilakukan.

“Antaratom”, Bukan “Antar Atom”

Seorang mahasiswa saya baru saja bertanya kepada saya, “Pak, yang benar itu ‘antaratom’ atau ‘antar atom’?”

“‘Antaratom’,” jawab saya. “Kenapa?” tanya saya penasaran.

Ternyata draf laporan tugas akhirnya dikritisi oleh seorang penguji karena dianggap salah menulis kata “antaratom”. Menurut sang penguji, yang benar adalah “antar atom” (dipisah).

Dalam kata “antaratom”, “antar” di sini adalah berperilaku seperti prefiks (awalan), artinya tidak sama dengan “antar” sebagai kata.

Don`t copy text!
%d bloggers like this: