Bahasa, oh Bahasa…

It’s been a while, yes,  a month ago I wrote my latest article in this blog. Banyak yang terjadi sehingga saya tidak sempat menulis. Saya jadi merenung, siklus ini terjadi secara berulang. Ada masa di mana saya dapat menulis banyak, tapi kemudian idle dalam waktu yang cukup lama. Mungkin memang idealnya “biarlah sedikit tapi rutin” daripada “rezeki ular, sekali dapat banyak kemudian puasa berpekan-pekan.”

Saya ingat, setelah menulis tentang Harry Pottter, saya sibuk dengan persiapan empat mahasiswa saya yang hendak maju sidang skripsi. Alhamdulillah semua lulus dengan nilai yang sangat baik, tapi yang lebih penting daripada itu mereka mengaku mendapat banyak pengalaman berharga selama bekerja dengan saya. Tentu saja banyak kekurangan sana-sini yang saya nilai wajar, karena dari awal memang kami tidak berniat untuk mencapai hasil yang sempurna melainkan proses yang sempurna.

Ada satu catatan kecil saya tentang mahasiswa saya ini. Saya temukan keempat mahasiswa bimbingan saya tersebut terkendala dalam penulisan laporan mereka. Karena saya mengikuti dari awal perkembangan pekerjaan mereka, saya dapat menilai bahwa mereka tidak mampu menuangkan seutuhnya apa yang mereka kerjakan ke dalam laporan. Ini tentu mengurangi bobot “narsis”, hehe, karena bagaimana pun laporan selain berperan sebagai karya tulis ilmiah juga sebagai alat promosi seberapa bagus kita bekerja.

Review Film Harry Potter 6

Semalam saya dan istri nonton film Harry Potter and The Half-Blood Prince di bioskop dekat rumah. Yah, terpaksa nonton karena sudah terlanjur menonton lima seri sebelumnya. Hitung-hitung menjadi kelompok penonton yang “duluan” nonton Harry Potter mengingat di Indonesia baru dirilis di bioskop per tanggal 17 Juli. Hehehe…

Durasi filmya sekitar 2 jam  30 menitan, lama waktu yang pantas untuk tiket seharga Rp 20.000,00; tapi belum sebanding dengan Lord of  The Ring: The Return of the King yang sampai 3 jam lebih, wuih! Artikel berikut ini adalah opini dan review pribadi saya tentang film ini.

My Desired Theme

This is my desired theme, which cup of coffee, a simple diary (or notepad is also fine), and a pen (or pencil is also okay). It’s all given by Coffee Desk theme by TemplateLite.com. After a long and tired struggle, dying and frustration feeling, I finally got it right in my blog. An uncountable thanks for my sexy wife who helped me and my spirit to stand up to the end, hee hee hee.

Leave Windows Mail, Move (back) to Thunderbird!

When the first time I bought this laptop, Windows Vista is already in it. I don’t like Vista, personally I prefer Windows XP — the best OS that ever released by Microsoft in my personal view. But, I am an old-fashioned guy, I decided not to switch to XP because I bought my laptop together with its Vista. I felt suffering a financial lose if I don’t use what I have bought. Then, probably like the rest of you, I have to struggle for my old-fashioned decision. Vista gave me paint in the butt.

As you guess, I also use Windows Mail, the successor of Outlook Express 6. I never use Outlook (and its variants) before, in fact, I just don’t like it. Thunderbird was my regular email client in my previous laptops. But, again, the pity of not using what I have bought made me to replace my favorite email client to Windows email. Of course I read many reviews of the comparison between Windows Mail and Thunderbird in internet, but I had made my mind!

After almost a year of using it, I’m not satisfied with Windows Email. It does not do what I want it to do. Examples, the most annoying things, are explained below.

Telkomsel Flash

Fiuff, seharusnya tulisan ini saya poskan hari Selasa 11 Februari yang lalu, hari di mana akun internet telkomsel flash berfungsi. Tapi, karena beberapa kesibukan dan harus ke Cepu esok harinya, terpaksa baru sekarang sempat menulis. Ada apa rupanya?

Don`t copy text!
%d bloggers like this: