Penutup Seri Khutbah Jumat: Apa Itu Islam

Khutbah Jumat tanggal 27 Februari 2015, di masjid Osaka University, Jepang. Ini adalah khutbah terakhir saya yang terjadwal di masjid tercinta ini.

Prolog: Seri khutbah ini dimulai dengan pertanyaan kenapa kita memilih beragama Islam. Jawabannya terkait dengan konsep tauhid yang membuat Islam sebagai agama sempurna. Ada 12 ayat yang dibahas pada khutbah-khutbah berikutnya sebagai contoh bagaimana Allah mengajarkan tauhid kepada manusia dengan cara deduksi, cara yang menjadi dasar dari metode ilmiah. Jika kita asumsikan khutbah-khutbah tersebut telah meyakinkan kita tentang tauhid, maka sebagai penutup khutbah terakhir ini membahas tentang apa itu Islam.

rusydi-khutbah-jumat-20150227-Slide1

Inti sari: Kata Islam membawa lima arti secara simultan, yaitu

  1. penyerahan diri,
  2. ketundukan,
  3. kepatuhan,
  4. keikhlasan, dan
  5. kedamaian.

Ajaran Islam hanya dua, yaitu (1) menyembah Allah Yang Mahaesa dan (2) mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW. Mengakui kerasulan tidak hanya dengan kata-kata, tapi juga dengan aksi berupa mengikuti panduan yang beliau berikan. Panduan yang beliau berikan bersumber pada Al-quran. Dengan demikian, mempelajari Al-quran menjadi sebuah keniscayaan kita kaum muslim.

“Antaratom”, Bukan “Antar Atom”

Seorang mahasiswa saya baru saja bertanya kepada saya, “Pak, yang benar itu ‘antaratom’ atau ‘antar atom’?”

“‘Antaratom’,” jawab saya. “Kenapa?” tanya saya penasaran.

Ternyata draf laporan tugas akhirnya dikritisi oleh seorang penguji karena dianggap salah menulis kata “antaratom”. Menurut sang penguji, yang benar adalah “antar atom” (dipisah).

Dalam kata “antaratom”, “antar” di sini adalah berperilaku seperti prefiks (awalan), artinya tidak sama dengan “antar” sebagai kata.

Root-Mean-Square (rms)

Seorang tweep meminta saya menulis konsep arus atau tegangan rms. Pertanyaan serupa juga pernah saya terima lewat email terkait tulisan “Arus bolak-balik, apa itu?”. Di samping itu, sudah lama saya tidak menulis blog, saya pikir baik juga memulai untuk saya menuliskan tentang rms.

Banyak cara memulai pembahasan tentang rms. Yang paling mudah mungkin dari bahasa. Root-mean-square artinya “dikuadratkan, lalu diambil rata-ratanya, kemudian diakarkuadratkan”. Jadi, kalau ada sebuah sekumpulan pengukuran {\(x_i\)} (dengan indeks \(i = 1, 2, \ldots , N\) menunjukkan nilai pengukuran ke-\(i\)), untuk mendapatkan nilai rms-nya:

  1. kuadratkan setiap nilai pengukuran: \({x_1}^2, {x_2}^2, \ldots, {x_N}^2\)
  2. rata-ratakan, \(\frac{1}{N}\sum_i^N{(x_i)^2} = y\)
  3. dan akar kuadratkan, \(\sqrt{y} = x_\text{rms}\)

Langkah kedua menunjukkan bahwa sesungguhnya yang kita lakukan adalah mencari nilai rata-rata.

Pertanyaan penting sekarang adalah, “Kenapa mencari rata-rata harus pakai rms?”. Konsep rms berasal dari statistik, sebuah seni matematika untuk menganalisis angka-angka hasil pengukuran. Mari kita pelajari konsep ini dari contoh berikut.

Arus Bolak-balik, Apa Itu?

pengantar: artikel ini pertama kali saya muat pada hari Minggu, 8 April 2007, di blog saya febdian.net yang berbasis drupal. Saya muat lagi di sini.

Nyaris semua orang pernah dengar, pernah memakainya dalam kalimat sehari-hari: arus bolak-balik, atau AC (alternating current). Tapi ketika ditanya apa itu arus bolak-balik, kebanyakan dari kita angkat bahu atau menggeleng. Jangankan orang kebanyakan seperti kita, para mahasiswa yang sedang mengambil kuliah Fisika Dasar pun banyak yang angkat bahu.

“Apa itu AC,” kata saya membuka tes awal di sebuah praktikum Fisika Dasar. “Arus bolak-balik, Pak,” kata mereka.

“Ya, apa itu arus bolak-balik?” tanya saya balik.

Mereka mulai saling pandang. Saya coba bantu mereka dengan mengganti pertanyaan, “Yang bolak-balik apanya?”.

“Arusnya Pak…”

Takut

Menurut KBBI, takut adalah merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yg dianggap akan mendatangkan bencana. Takut juga memiliki asosiasi dengan takwa — tapi bukan takut jenis ini yang saya bahas.

“Kenapa kita merasa takut?”

Ada banyak sudut pandang yang dapat dipakai untuk menjawab pertanyaan tersebut. Salah satunya adalah kekhawatiran kalau-kalau sesuatu yang buruk terjadi hanya pada diri kita.

Jalan sendirian di malam yang sepi dan gelap, kita merasa takut. Kita khawatir jangan-jangan ada penjahat yang akan mencelakan kita.

Meloncati jurang membuat kita takut karena jika gagal sampai di seberang kita jatuh dan maut menunggu.

Don`t copy text!
%d bloggers like this: