Puncak Pandemik dan Peluruhan Nuklir

Saya akan mulai menulis catatan saya tentang sidang TA mahasiswa yang melibatkan saya. Entah sebagai pembimbing, atau penguji. Tentu saja saya hanya menuliskan poin-poin yang saya nilai layak untuk dipajang di sini.

Kemarin, Senin, 23 Syawal 1443, dua mahasiswa bimbingan saya sidang TA. Mereka adalah Jerry (angkatan 2015) dan Winky (2017).

Jerry mempelajari distribusi jumlah penderita Covid19 di Indonesia dengan model SIR. Sedangkan Winky menggunakan kalkulasi DFT untuk mempelajari kinetika hidrolisis methyl acetate pada lingkungan asam yang diencerkan.

Ke Universitas Jember lagi

Belum move on dari Sujiwo Tejo

Saya diberi tahu kalau Mbah Tejo kirim salam kepada saya dan istri. Berbunga-bunga hati ini.

Hati saya saja berbunga-bunga, apatah lagi hati para mahasiswa saya yang ikut ceramah Mbah Tejo hari Sabtu kemarin.

Engkau memang jancuk dan aku lala kepadamu

Saya, Ira, dan Mbah Tejo di acara Himafi Inspiration Talk Show, Ruang Kahuripan 300, Gedung Rektorat, Universitas Airlangga.

Hari ini Himafi Unair membuat hari saya luar biasa. Bagaimana tidak. Mereka telah mewujudkan keinginan saya 19 tahun yang lalu: menyaksikan langsung ceramah Sujiwo Tedjo. Tidak tanggung-tanggung, tidak hanya menyaksikan, tapi saya dan istri duduk di kursi VVIP!

Mereka mengundang Sujiwo Tejo, sang budayawan separuh baya yang karya dan perangainya bahkan memukau kid zaman now. Penampilan Mbah Tejo tidak istimewa. Bagaimana bisa istimewa, nilai performanya sudah 10 per 10! Setiap tampil, beliau selalu istimewa. Karena selalu istimewa, membuat penampilan beliau jadi biasa saja.

Catatan Pendek Haji 2017

Ka’bah (dari akun instagram Wayan Lessy)

Kalau bukan karena Ka’bah, rasanya tidak mungkin orang datang ke kota Mekah ini. Bagaimana tidak, daerah ini daerah bukit-berbatuan, tandus, berdebu, sangat panas di musim panas dan sangat dingin di musim dingin. Musim haji ada 4 jutaan orang datang ke sini, di luar musim haji satu jutaan orang tiap bulan tetap datang untuk umrah dan ziarah.

Kalau bukan karena Ka’bah, rasanya tidak mungkin perekonomian Kerajaan Arab Saudi hebat. Bagaimana tidak, biasanya perekonomian melekat pada sumber teknologi. Semakin banyak sumber teknologi sebuah negara, semakin hebat ekonominya; bukan sumber daya alam yang menentukan, contohnya adalah Jepang. Saya tidak tahu ada teknologi modern berasal dari Arab Saudi, tapi perekonomian mereka tetap kuat.

Don`t copy text!
%d bloggers like this: