Konteks dan Respek

Konteks punya dua komponen. Begitulah pemahaman saya dari Unit 1: Communicating as a Scientist, dari seri tulisan Dr. Jean-luc Doumont yang sedang kita bahas.

Sebelum membahas komponen kedua, kita tuntaskan dulu materi dari Unit 1 tsb.

Unit 1 fokus pada komponen pertama. Komponen pertama ini melibatkan emosi pendengar/pembaca. Kebanyakan pendengar/pembaca tidak ingin terlihat bodoh, atau dituduh bodoh. Sekali mereka tersinggung, mereka akan mudah menolak pesan kita. Dan, ingatan mereka sangat lama tentang hal ini ketimbang tentang pesan yang kita sampaikan.

Konteks Kalimat

Tiga artikel pertama membahas kalimat efektif. (Artikel 1, artikel 2, dan artikel 3.) Kalimat efektif menunjukkan kita mengerti apa yang kita tulis. Kalimat efektif memudahkan pembaca memahami apa yang kita sampaikan. Kalimat efektif disusun oleh kata-kata yang tidak mubazir dan tidak menyesatkan. Al-quran adalah contoh sempurna kalimat-kalimat efektif.

Komunikasi ilmiah itu seperti melukis. Kalimat seperti kuas dan cat; yang satu kata dan yang lain adalah tanda baca. Kita lukis gunung. Lukisan gunung merepresentasikan gunung yang sesungguhnya. Kualitas lukisan tidak ditentukan oleh kualitas kuas dan cat. Tetapi, ditentukan oleh kemampuan kita menggunakan kuas dan cat. Semakin efektif, semakin tinggi kualitas lukisan gunung tsb.

Mekanik Penulisan

Saya baru kenal istilah mekanik penulisan ini dari tulisan Dr. Doumont. Beliau menyebutnya sebagai text’s mechanics. Setelah saya baca, saya pahami mekanik penulisan ini adalah ketrampilan kita menggunakan aturan-aturan penulisan seperti singkatan, angka, huruf kapital, dan tanda baca. Semacam PUEBI dalam bahasa Indonesia.

Tujuan mekanik penulisan adalah untuk menyederhanakan tulisan. Singkatan, misalnya, membuat jumlah kata berkurang. Jumlah kata berkurang, tentu durasi waktu membaca juga berkurang. Siapa yang tidak senang?

Verba dan Rasa Kalimat

Saya belum menjawab pertanyaan utama dalam artikel sebelumnya. “Saya yakin argumen saya tidak salah. Jika dijadikan algoritma, sudah pasti komputer dapat memahaminya. Lalu, kenapa patah juga?”

Agaknya tidak ada yang sadar, ha ha ha.

Lalu, kenapa argumen saya tetap patah? Karena saya tidak menggunakan kalimat efektif saat mempresentasi ide. Kenapa tidak efektif? Karena banyak kata-kata saya yang sia-sia dan bahkan menyesatkan.

Dr. Doumont mengarahkan kita untuk peduli pada pilihan kata kerja (verba) dan mekanik penulisan. Dua poin ini, menurut pemahaman saya, adalah usaha kita untuk menghindari kata-kata yang sia-sia dan menyesatkan.

Menulis Kalimat Efektif

Saya belajar menulis kalimat efektif sejak SD. Satu kalimat harus dan hanya memiliki satu kata kerja. Hindari kalimat bertingkat. Boleh saltik (tipo), tapi tidak boleh salah tanda baca. Begitu kira-kira pelajaran menulis dari SD sampai SMA.

Tetapi, saya baru menyadari betapa pentingnya kalimat efektif dalam tulisan dan ucapan pada 1435 (2014 tahun matahari). Tahun itu adalah tahun keempat masa studi S-3 saya. Ketika itu saya masih berjibaku untuk merangkum apa-apa yang telah saya kerjakan, apa-apa yang telah saya publikasikan, dan apa-apa yang tidak jadi saya kerjakan namun dapat dilakukan.

Don`t copy text!
%d bloggers like this: